BENGKULU - Rumah yang terbuat dari kayu meranti merah, berbentuk rumah panggung adat Bengkulu ini masih berdiri kokoh. Rumah bersejarah itu menyimpan berbagai koleksi peninggalan istri Presiden pertama Republik Indonesia (RI). Fatmawati, namanya.
Rumah yang berdiri di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu itu menyimpan mesin jahit tangan merek 'Singer' tahun 1941.
Mesin jahit tersebut digunakan untuk menjahit Sang Saka Merah Putih dan dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, di Jakarta, pada 17 Agustus 1945.
Peninggalan mesin jahit tangan itu tersimpan di dalam ruang berukuran sekira 3 x 4 meter. Berikut dengan kursi untuk duduk Fatmawati, ketika menjahit Sang Saka Merah Putih.
Di rumah berukuran sekira 10 x 20 meter ini juga terdapat tulisan lagu ciptaan Fatmawati, tulisan Soekarno serta satu buah tulisan surat, satu buah lemari pakaian, lampu gantung.
Tidak hanya itu, di bagian ruang tamu rumah yang berdiri di atas tanah seluas 20 x 25 meter tersebut terpajang satu set meja dan kursi tamu, 2 set pakaian kebaya panjang, serta foto Soekarno dan Fatmawati yang terdapat di dinding ruang tamu dan kamar.
Berbagai peninggalan perempuan kelahiran Bengkulu, 5 Februari 1923 itu sudah terlihat jelas di depan pintu masuk rumah putri tunggal dari pasangan Hasan Din dan Siti Khadijah ini.
Seperti, dua lukisan berukuran 92 cm x 75 cm, Presiden Pertama RI, Soekarno di bagian sisi kiri dan lukisan Ibu Negara Fatmawati di bagian sisi kanan. Di mana lukisan itu di lukis Garcia LLMAS asal Filipina.
''Peninggalan Ibu Fatmawati masih ada disini. Foto ada sekira 36 buah, mesin jahit tangan bendera merah putih, meja dan kursi tamu satu set, pakaian kebaya, lukisan, tulisan tangan Soekarno dan Fatmawati dan lainnya,'' kata penjaga rumah Fatmawati, Marwan Amanadin (70), ketika ditemui Okezone, Jumat 14 Agustus 2020.
Perjalanan Hidup Fatmawati
Kemerdekaan RI tidak terlepas dari sosok perempuan yang dilahirkan di Bengkulu. Sosok perempuan kelahiran, Bengkulu, 5 Februari 1923 ini merupakan penjahit Sang Saka Merah Putih untuk dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Pasca-pembacaan proklamasi yang dibacakan, Presiden Soekarno di Jakarta.
Fatmawati merupakan anak tunggal dari Pasutri H Hasan Din dan Siti Khadijah. Di mana perempuan yang mendapatkan bintang kehormatan Maha Putra Adi Pradana, 1995 dipersunting Soekarno pada 1943.
Sebelum dipersunting Soekarno, Fatmawati bertemu Bung Karno ketika diasingkan di Bengkulu, pada tahun 1938 hingga 1942. Saat di Bengkulu, Bung Karno pernah mengajar di sekolah Muhammadiyah. Dari situ Bung Karno kenal dengan Fatmawati.
Usai menikah, ibu dari lima orang anak itu langsung di boyong ke Jakarta, untuk mendampingi Soekarno. Sejak itu perempuan yang sempat menjabat sebagai pelindung/ penasehat Kongres Wanita Indonesia (Kowani) ini aktif dalam perjuangan kemerdekaan RI.
Tidak hanya itu, istri Proklamator Kemerdekaan RI 1945 ini ikut serta dalam menghadiri sidang Dokutsu Zyunbi Tyoosakai. Fatmawati juga ikut dalam memberikan bantuan berupa beras kepada para istri prajurit.
Sosok perempuan yang sempat menjabat pelindung/penasihat persatuan wanita Indonesia (Perwari) ini ikut menderita bersama bayi-nya Guntur Soekarno Putra. Saat itu Fatmawati ikut diculik pemuda untuk dibawa ke Rengasdengklok, pada 16 Agustus 1945.
Perjalanan hidup Fatmawati cukup banyak aral melintang yang dihadapi. Selama 1945 hingga 1946, dia sering berpindah tempat. Dia sering bersembunyi dan menyamar. Sebab, saat itu di Jakarta sedang tidak aman lantaran telah diduduki pasukan NICA Belanda.
Perjuangan ini membuat Fatmawati banyak terlibat dalam kemerdekaan. Saat itu Fatmawati juga sempat mengirim perbekalan untuk para pejuang di Front yang sedang gerilya. Mulai dari makanan, pakaian bahkan peluru, (30 Tahun Indonesia merdeka 1985:139).
''Ibu Fatmawati menjahit sang saka merah putih, ketika malam 17 Agustus 1945, di Jakarta. Berbagai jabatan sempat beliau duduki,'' sampai Marwan, sepupu dari Fatmawati.
Dampingi Soekarno Ketika Detik-detik Proklamasi
Kesetiaan dan ketangguhan Fatmawati, dalam perjuangan membela dan meningkatkan derajat wanita pun tak lepas ketika menjadi Ibu Negara RI. Menghadiri detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945, bersama-sama dengan Nyonya S.K Trimurti sebagai unsur wanita.
Fatmawati juga selalu menjadi penasihat dan pelindung setiap organisasi wanita. Mulai dari Kowani, Kowari dan Persit. Bahkan, Fatmawati sebagai perempuan yang konsekuen dan konsisten dalam membela hak-hak wanita. Seperti dalam sikapnya antipoligami.
Di mana pada masa orde baru sikap ini dapat melindungi para istri pegawai negeri dengan lahirnya PP. 10. Almarhumah juga gigih memperjuangkan berdirinya gedung wanita pertama di Indonesia yang terletak di jalan Diponegoro, Jakarta.
''Peran almarhumah sangat menonjol dalam upaya membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pendidikan, kesehatan anak terlantar, penyandang cacat sehingga almarhumah memprakarsai pendirian Perguruan Cikini, Yayasan Penderita Anak Cacat (YPAC), pendiri Yayasan Rumah Sakit 'Fatmawati','' ulas Marwan.
Peran sosok perempuan ini juga andil dalam memperjuangkan agar dokumen, barang dan arsip pemerintah RI yang dirampas Belanda, kisaran tahun 1945 hingga 1950 di Jakarta dan di Yogyakarta, dapat dikembalikan ke Indonesia.
Perempuan yang sempat menjabat sebagai pelindung/penasehat Nasional Woman's Internasional Club (WICC) ini turut aktif dalam rangka pemberantasan buka aksara, serta sebagai sponsor berdirinya organisasi ''Sekato'' di Jakarta.
Anak dari tokoh Muhammadiyah ini mengunjungi dan memberikan santunan kepada panti asuhan pada bulan puasa dan pada perayaan hari ibu. Tradisi ini pun hingga saat ini masih tetap berlanjut.
Sebagai Ibu Negara, almarhumah selalu memperkenalkan wajah Indonesia beserta budayanya kepada negara-negara sahabat. Caranya, menampilkan ciri khas budaya Indonesia. Seperti, makanan, tarian dan penataan ruangan pada saat diadakan jamuan kenegaraan.
Putri teladan dari Bengkulu ini semasa remajanya dihabiskan di Bengkulu dalam suasana perjuangan perintis kemerdekaan. Sosok Fatmawati sebagai perempuan yang teguh imannya dan orang yang penyabar dalam menghadapi segala cobaan serta mempunyai prinsip dengan pengabdian yang tulus kepada suami.
''Almarhumah wafat pada 14 mei 1980, di Kuala Lumpur, Malaysia. Jenazahnya dimakamkan di perkuburan Karet Jakarta. Pemerintah RI menganugerahkan Bintang Maha Putra Adi Pradana pada tanggal 10 November 1995,'' kata Marwan.
(Rahman Asmardika)