Kisah Romusha di Balik Pembangunan Terowongan Niyama

Avirista Midaada, Jurnalis
Selasa 18 Agustus 2020 10:52 WIB
Saluran parit di sekitar Terowongan Niyama Tulungangung, lokasi romusha. Foto: Avirista-Okezone
Share :

Beragam kisah pilu selama romusha, mulai dari para pekerja yang tak diberikan akses makanan dan minuman yang memadai hingga serangan nyamuk malaria yang kala itu cukup mematikan.

“Para pekerja ini tidak diberikan makan yang cukup, jadi hanya pekerja yang rajin saja yang diberikan makan, itupun terbatas. Sehingga keadaannya cukup memprihatinkan dan menderita. Banyak juga yang meninggal dunia karena kelelahan dan sakit terkena malaria,” paparnya.

Jejak kekejaman yang diterapkan lewat romusha ini diabadikan melalui suatu monumen di kawasan Terowongan Niyama yang dinamakan Monumen Sukamakmur. Monumen ini sendiri dibuat bersama rekonstruksi Terowongan Niyama pada 1986, untuk mengenang para korban romusha pembuatan parit dan terowongan.

Kini saluran air dan terowongan dikelola oleh PT Jasa Tirta 1. Hal ini diakui oleh seorang petugas Terowongan Niyama dari staf PT Jasa Tirta 1, Suprapto.

“Sekarang ini dikelola Jasa Tirta 1, sudah sejak tahun 1990-an. Memang saluran airnya itu dibangun saat penjajahan Jepang,” tukasnya.

(Abu Sahma Pane)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya