BENGKULU - Gempa tektonik mengguncang 2 kali Provinsi Bengkulu, pada Kamis (19/8/2020), pukul 05.23 WIB, dengan Magnitudo (M) 6,9 dan gempa kedua M6,8 terjadi pada pukul 05.29 WIB.
Di mana Bengkulu merupakan suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas yang memiliki mekanisme pergerakan rata-rata sesar naik.
Sehingga provinsi berjuluk Bumi Rafflesia ini sering dilanda banyak gempa besar dengan kedalaman dangkal. Dari catatan sejarah gempa, daerah ini di dominasi gempa dengan mekanisme sesar naik.
Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia tahun 2017, khusus Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi. Megathrust Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.
Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi kekuatan gempa maksimum yang berbeda.
Pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9. Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil, M=8.4.
''Bengkulu sering dilanda gempa karena dilalui dua segmen subduksi megathrust,'' kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah, kepada okezone, Kamis (19/8//2020).
Sejarah Gempa Besar di Bengkulu
Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat, pada Minggu 4 Juni 2000 dengan kekuatan Mw=7,3. Kemudian pada Rabu 12 September 2007 dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif berdekatan.
Dua gempa tersebut pada dasarnya dibangkitkan segmen megathrust yang berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan megathrust Enggano. Sementara, gempa pada Rabu 12 September 2007 dibangkitkan megathrust Mentawai-Pagai.
Segmen Enggano, terang Sabar, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada gempa besar melebihi M=7,0 yang terjadi pada segmen tersebut. Meskipun demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi.
''Adanya rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG Kepahiang. Sehingga segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu dalam bentuk gempa-gempa kecil,'' terang Sabar.
Sementara, pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, jelas Sabar, selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa.
Secara langsung gempa 2010, terang Sabar, memang tidak berdampak pada daerah Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat dibeberapa daerah. Seperti di Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu.
Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, tambah Sabar, zona megathrust Mentawai-Pagai ini pernah mencatat sejarah kelam dengan terjadi gempa dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatam M=9,0.
Dampaknya, tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan wilayah lain ikut terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami di provinsi berjuluk Bumi Rafflesia.
Akhir-akhir ini segmen Enggano kembali menunjukkan eksistensinya. Di mana pada Kamis (19/8/2020), terjadi gempa M=6,9 dan M=6,8.