Wakil Dekan II FKM Unair tersebut menambahkan, Jawa Timur sendiri sering mengalami tarik ulur data yang mengganggu akumulasi data nasional. Seringkali data yang dihimpun dalam bentuk ‘cicilan’ yang tidak setiap hari disetor.
“Ada banyak alasan, seperti agar terlihat stabil. Tapi hal tersebut akan sangat merugikan dalam pengambilan keputusan. Harus diingat kalau keputusan yang tepat datang dari data yang tepat dan valid,” ungkapnya.
Selain itu, perbedaan data antara daerah dan pusat juga sering terjadi akibat perdebatan asal kasus positif. Hal tersebut umumnya terjadi saat pasien positif memiliki domisili, daerah asal, atau tempat perawatan yang berbeda-beda.
(Baca juga: Sepekan Terakhir Kasus Covid-19 di Jakarta Naik Signifikan)
“Makanya kadang sulit menentukan kasus tersebut akan masuk daerah mana. Ini juga berpotensi pada tumpang tindih data antar daerah dan akhirnya mengganggu akumulasi data pusat,” jelasnya.