Atoillah menjelaskan, meski data menunjukkan rekor tertinggi, namun hal tersebut tidak dapat menjadi acuan kapan puncak pandemi terjadi di Indonesia. Karena selain data yang non-realtime, bisa jadi data yang dilaporkan pada hari tertentu merupakan komponen yang sudah diperiksa bulan lalu namun baru dilaporkan pada hari tersebut.
Akan tetapi meski tidak dapat dijadikan acuan, harus diakui bahwa terjadi peningkatan angka positif khususnya pasca jadwal cuti bersama di awal November lalu. Apabila mengikuti timeline, dirinya melihat bahwa agenda liburan atau jadwal weekend ternyata akan cenderung diikuti dengan peningkatan kasus.
(Baca juga: Update Corona 7 November 2020: Positif 433.836 Orang, 364.417 Sembuh & 14.540 Meninggal)
“Fakta ini juga didukung dengan banyaknya transmisi virus yang terjadi melalui keluarga atau kerabat. Maka dari itu jadwal liburan dan kumpul keluarga masih berpotensi besar meningkatkan jumlah kasus baru,” imbuhnya.
Ia pun mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat mampu secara bijak dalam bertindak. “Pandemi akan cepat selesai di negara atau daerah yang disiplin, seperti halnya Australia, New Zealand, atau China. Makanya jika ingin kasus segera melambat, sistem dan kebijakan harus lebih tertata rapi dengan tingkat disiplin yang tinggi,” katanya.
(Donatus Nador)