Pendrikan, misalnya, berasal dari kata van Hendrik-lan. Dulu di kawasan ini tinggal seorang tuan tanah berpengaruh bernama van Hendrik, tapi ada yang berpendapat tempat ini diambil dari nama Prince Hendrik lan, nama suami Ratu Wilhelmina.
"Seteran dari kata schietterrein (lapangan tembak). Di sini dulu terdapat lapangan tembak militer. Cenilan aslinya Genie-lan, karena di tempat ini dulu ada asrama pasukan Genie (Zeni). Masih ada Sentiling yang berasal dari kata Koloniale Tentoonstelling (Pekan Raya Kolonial), Bojong dari kata boot-jonggen, dan Pasar Ya ik, menner (panggilan untuk tuan Belanda waktu itu),"ungkapnya.
Dikatakannya bahwa Bojong, sekarang ini dikenal dengan nama Jl. Pemuda, sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan dengan wajahnya tempo dulu. Dahulu kala di sepanjang jalan ini bertebaran pohon asam dan kenari yang akan memayungi langkah saat berjalan di siang hari.
Pohon asam ini sempat menimbulkan decak kagum P.A. van der Lith dan John F. Senellemen, penulis Belanda. Sedangkan S. Kalff memuji barisan pohon kenari dengan sebutan amandelboomen van het Oosten (pohon amandel dari Negeri Timur).
"Bahkan Otto Knaap dalam tulisannya "Semarang in Vogelvucht "menyimpulkan, dibandingkan dengan indahnya Jl. Salemba di Jakarta dan Jl. Simpang di Surabaya, Jl. Bojong merupakan mahkota keindahan dari semuanya itu,",terangnya.
Sekarang, sisa keindahan Bojong hanya bisa dinikmati melalui peninggalan bangunan kolonial yang tersebar di sepanjang jalan itu. Di ujung utara ada Jembatan Berok yang cukup tua, dan dalam perkembangannya mengalami beberapa kali perubahan wajah.
Jembatan ini dibangun pada masa VOC dengan nama Government Brug karena jembatan ini menuju De Groote Huis, kantor Gubernur VOC. Dari kata brug jembatan itu terletuplah nama jembatan Berok.
(Khafid Mardiyansyah)