Filipina Desak China Tarik 220 Kapal Ikan di Terumbu Karang yang Disengketakan

Susi Susanti, Jurnalis
Selasa 23 Maret 2021 11:58 WIB
Filipina desak China tarik 220 kapal di terumbu karang yang disengketakan (Foto: CNN)
Share :

Sementara Whitsun Reef masih berada di luar kendali langsung Beijing, China secara sepihak telah mengubah terumbu karang lain di rantai Spratly menjadi pulau-pulau buatan manusia dengan infrastruktur dan benteng militer yang substansial, termasuk rudal, landasan pacu, dan sistem persenjataan.

Armada penangkap ikan China terlihat menekan klaim Filipina lainnya di Spratly.

Misalnya, dari awal 2019 hingga Maret 2020 China mempertahankan kehadiran kapal milisi maritim di sekitar Pulau Thitu, pulau terbesar yang diduduki Filipina di kepulauan Spratly, menurut Asia Maritime Transparency Initiative.

Saat kapal-kapal China menarik perhatian di Laut China Selatan, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat menunjukkan sebagian kekuatannya yang baru diperoleh di perairan Laut Jepang.

Kementerian Pertahanan Jepang dan media yang dikelola pemerintah China Global Times melaporkan kapal perusak berpeluru kendali PLA Navy Type 055, Nanchang, memimpin kekuatan kapal perusak Type 052 dan fregat Type 054 melalui Selat Tsushima dan ke Laut Jepang untuk pertama kali.

"Memasuki Laut Jepang menunjukkan bahwa Type 055 telah memperoleh kemampuan untuk berpatroli di wilayah laut yang jauh, dan merupakan indikasi kemajuan Angkatan Laut PLA," terang Song Zhongping, seorang ahli militer China, mengatakan kepada Global Times.

Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan pesawat pengintai mengkonfirmasi kapal-kapal China melewati Selat Tsushima, mengatakan itu adalah pertama kalinya pasukan Jepang menemukan kapal perusak Type 055.

Type 055 dipandang sebagai komponen kunci dari armada China yang mengalami modernisasi dengan cepat ketika Angkatan Laut PLA mendorong untuk memproyeksikan pengaruhnya lebih jauh dari pantai negara itu.

"Kapal ini secara khusus memiliki desain yang canggih, fitur siluman, radar, dan inventaris rudal yang besar. Kapal ini lebih besar dan lebih kuat daripada kebanyakan kapal perusak Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Korea Selatan," kata analis senior Rand Corp. Timothy Heath pada 2018.

Pengerahan kapal China ke Laut Jepang dilakukan hanya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken bertemu dengan rekan-rekan mereka di Tokyo untuk serangkaian pembicaraan bilateral.

Setelah pembicaraan tersebut, Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mengatakan AS dan Jepang "menentang segala upaya untuk mengubah status quo di wilayah tersebut termasuk Laut China Timur dan Laut China Selatan."

Motegi juga mengatakan AS telah menegaskan kembali komitmennya untuk membantu Jepang mempertahankan Senkakus, serangkaian pulau yang disengketakan di Laut China Timur yang disebut China sebagai Diayous dan diklaim sebagai miliknya.

Namun dalam laporan Global Times, Song, pakar militer, mengatakan pengerahan kapal perang China ke Laut Jepang kemungkinan besar sudah direncanakan dan rutin dilakukan.

"Pelatihan PLA tidak ditargetkan ke Jepang atau AS, tetapi negara-negara ini kemungkinan akan melihatnya seperti itu karena mereka melihat China sebagai musuh imajiner mereka," kata Song dalam laporan itu.

"PLA perlu meningkatkan kemampuan tempurnya di laut yang jauh untuk menjaga kedaulatan, keamanan dan kepentingan pembangunan di dunia yang tidak pasti dan tidak stabil, dengan ancaman eksternal dari lingkaran kecil yang dipimpin oleh AS," terangnya kepada Global Times.

(Susi Susanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya