Nadine Awad, pelajar beretnis Arab-Israel berusia 16 tahun, bersama ayahnya - 52 tahun - pada Rabu (19/5) dini hari, ketika roket menghantam mobil dan rumahnya, menewaskan mereka berdua.
Petugas medis mengatakan sang ibu yang juga berada di dalam mobil dalam kondisi terluka parah.
Sepupu Nadine, Ahmad Ismail, mengatakan dia mendengar suara roket menghantam dari dalam rumah keluarga, di kota Lod, dekat Tel Aviv, tempat orang Arab dan Yahudi Israel tinggal bersama.
"Itu terjadi begitu cepat," katanya kepada lembaga penyiaran publik, Kan.
"Bahkan jika kami ingin lari ke suatu tempat, kami tidak memiliki ruangan yang aman,” terangnya.
Orang-orang yang mengenalnya mengatakan Nadine adalah "gadis yang sangat istimewa" di tahun pertama sekolah menengahnya yang bercita-cita menjadi dokter.
Kepala sekolahnya berujar bahwa Nadine "bermimpi mengubah dunia".
"Dia adalah gadis yang istimewa, gadis yang sangat berbakat. Dia ingin menaklukkan dunia," kata Shirin Natur Hafi kepada stasiun radio setempat, seperti dilaporkan Times of Israel.
Nadine terlibat dalam sejumlah proyek yang berhubungan dengan sains dan sosial dengan sekolah-sekolah Yahudi di daerah tersebut, dan dia berencana berpartisipasi dalam program studi biomedis, kata Hafi.
Pada Jumat pekan lalu, empat anak Muhammad al-Hadidi - Suhayb, 13 tahun, Yahya, 11, Abderrahman, delapan tahun, dan Osama, enam tahun- mengenakan pakaian terbaiknya dan pergi mengunjungi sepupu mereka di dekatnya, di kamp pengungsi Syati di luar Kota Gaza, guna merayakan Idul Fitri, yang menandai akhir Ramadan.
"Anak-anak mengenakan pakaian Idul Fitri, membawa mainan mereka dan pergi ke rumah pamannya untuk merayakannya," ungkap ayahnya yang berusia 37 tahun kepada wartawan.
"Mereka menelepon di malam hari agar dibolehkan menginap dan saya berkata OK,” lanjutnya.
Keesokan harinya, gedung tempat mereka menginap dihantam. Hanya adik laki-laki mereka yang berusia lima bulan, Omar, yang selamat, setelah diseret dari puing-puing tempat dia berbaring di samping ibunya yang sudah meninggal.
"Mereka aman di rumahnya, mereka tidak membawa senjata, mereka tidak menembakkan roket," jelasnya tentang anak-anaknya.
"Apa yang mereka lakukan sehingga pantas menerima ini? Kami warga sipil,” ujarnya.
Di tengah puing-puing itu ada mainan anak-anak, permainan Monopoli, dan, mereka tengah duduk di meja dapur, serta makanan yang tersisa di piring-piring mereka.
"Ketika anak-anak saya tidur, mereka berharap bahwa ketika mereka bangun semuanya akan berakhir. Tapi kini mereka pergi selamanya. Saya hanya memiliki kenangan atas mereka, dan aroma mereka di rumah saya," terangnya kepada surat kabar The Times di London.