Baca Juga: Jumlah Angka Kematian Covid-19 Simpang Siur, Ini Penjelasan Satgas
Kasus pertama dan kedua Covid-19 di Indonesia ini memicu perdebatan tentang bagaimana masyarakat harus menanggapi kejujuran dan keberanian orang yang secara terbuka menyatakan status kesehatan mereka. Covid-19 telah mengubah hidup masyarakat, terutama bagaimana privasi mereka direnggut demi konten media sosial yang sensasional.
Namun, stigmatisasi terhadap pasien Covid-19 tidak berumur lama. "Hari ini, kita malah melihat banyak orang malah saling membantu dan mendukung tetangga mereka. Bahkan, menyemangati orang-orang yang mereka tidak kenal sebelumnya, yang sedang melalui masa isolasi untuk sembuh dari infeksi," tutur Reisa.
Saat ini, telah banyak inisiatif berdasarkan solidaritas tinggi yang menulari berbagai kelompok di seluruh Indonesia. Mereka saling membantu dengan orang lain yang bukan hanya pasien Covid-19, tetapi juga mereka yang terkena dampak krisis ekonomi.
Inisiatif 'Desa Tangguh dan Jogo Tonggo' adalah contoh hal baik yang menular. Gerakan yang secara harfiah berarti 'menjaga tetangga Anda' ini merupakan inspirasi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berskala Mikro (PPKM Mikro).
Meski dengan sebutan yang bervariasi di 34 provinsi, tapi semangat yang sama untuk saling peduli dan mengawasi, atau bahkan saling merawat anggota masyarakat membutuhkan telah meluas di seluruh pelosok negeri. Tentunya, pemerintah terus mencari cara untuk mencegah lebih banyak kematian dan memastikan masyarakat semakin aman dari ancaman virus Corona ini.
Kapasitas pengujian sampel (testing) telah meningkat dari 10 ribu menjadi lebih dari 50.000 sampel setiap hari. Jumlah laboratorium telah berkembang menjadi sekitar 800 laboratorium di seluruh negeri.
"Ini adalah komitmen meningkatkan 3T (Testing,Tracing and Treatment) atau tes, telusur dan terapi yang ditekankan Presiden Joko Widodo sejak awal pandemi," ucapnya.
Peningkatan ini dimungkinkan dengan dukungan dari puluhan ribu tracers atau petugas pelacak kasus yang merupakan gabungan dari tenaga Kesehatan, dan polisi dan prajurit TNI. Ribuan relawan juga direkrut dan dilatih untuk mendukung tracing, dan berbagai tugas yang biasa diemban tenaga kesehatan.
Mereka bertugas mulai dari penyedia layanan kesehatan tingkat terendah, seperti puskesmas sampai dengan di rumah -rumah sakit rujukan. Pandemi telah mengambil alih hampir 90 persen dari layanan yang disediakan oleh fasilitas kesehatan tingkat mana pun.
Bahkan, laporan terbaru menunjukkan bahwa penanganan pandemi menambah sekitar 40 persen beban kerja dan jam operasional puskesmas di seluruh Indonesia. Setelah pemerintah mengamati arus mudik dan arus balik, rumah sakit kembali diminta untuk meningkatkan kapasitas mereka dengan menambah jumlah bangsal isolasi dan tempat tidur di ruang gawat darurat mereka.