Penelusuran Subrahmanyam, terhadap teks-teks warisan Kerajaan Mughal yang dibuat pada akhir abad 16 hingga awal abad 17, ternyata membuahkan hasil. Naskah berjudul Raudhatut Thahirin, atau "Taman yang Sempurna" memuat beberapa catatan deskriptif walaupun terbatas tentang penghuni kepulauan "bawah angin". Naskah itu dibuat oleh Thahir Muhammand bin 'Imaduddin Hasan bin Sultan Ali bin Haji Muhammad Husain Sabzwari yang lebih dikenal sebagai Muhammad Thahir.
Catatan itu terdapat dalam buku kelima yang menulis tentang "keajaiban dan kehebatan pulau-pulau dan pelabuhan" yang dekat dengan wilayah Benggal. Di dalamnya terdapat sumber tulisan yang berasal dari catatan Khoja Baqir Anshari, punggawa Mughal yang bertugas di Benggal. Muhammad Thahir menyelesaikan catatan ini di masa kepemimpinan Sultan Akbar. Muhammad Thahir sendiri adalah seorang imigran dari Iran, anak dari seorang punggawa kerajaan.
Deskripsi Thahir tentang kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara secara khusus diberikan pada dua kerajaan besar yakni Kerajaan Pegu (Burma) dan Kerajaan Aceh. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas catatan Thahir tentang Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh mulai dikenal di kerajaan Mughal sejak diperkenalkannya tembakau. Seorang petugas bernama Asad Beg Qazwini telah mempersembahkan hadiah kepada Sultan Akbar seperangkat alat menghisap tembakau yang dibuat dan didatangkan dari Aceh. Alat itu adalah pipa panjang yang terbuat dari emas. Salah satu hiasan di ujung pipa itu adalah batu mulia yang didatangkan dari Yaman.
Thahir menjelaskan dengan panjang lebar tentang bagaimana mendapatkan kamper (kapur barus). Komoditas yang sangat berharga itu hanya bisa didapatkan di wilayah yang dihuni oleh suku-suku kanibal. Perlu lima hari perjalanan untuk pergi ke wilayah tempat pohon kamper itu berada. Catatan selanjutnya lebih pada kecenderungan untuk menggambarkan praktek kanibalisme yang dilakukan para penghasil pohon kamper. Mulai dari mereka memakan anggota suku yang sakit sampai soal taruhan judi yang mengorbankan salah satu anggota badannya.
Getah dari pohon kamper akan muncul pada musim hujan tertentu yang ciri-cirinya bisa dilihat saat tetesannya jatuh di antara daun pisang. Tidak hanya getah kamper yang sudah jadi, Kerajaan Aceh juga mengirimkan batang pohon kamper yang menghasilkan getah itu.
Thahir mencatat bahwa pohon kamper itu menyerupai pohon mangga. Ada tiga cara untuk mendapatkan getah kamper, tulis Thahir, yang pertama dari kulitnya, yang kedua di antara cabang pohonnya, dan yang ketiga ditoreh dari bagian bawah pohon.