Setelah asik dengan cerita kanibalisme dan kapur barus, Thahir berganti cerita tentang adat orang Aceh. Ibu Kota Kerajaan Aceh adalah kota yang penuh dengan kotwal atau petugas pengintai. Segala kegiatan warganya serba diawasi. Jika ada pasangan jatuh cinta mereka akan dicatat pengintai. Jika mereka ketahuan berzina mereka akan dihukum rajam.
Hukum di Aceh juga keras dengan praktik potong tangan bagi pencuri. Ada juga hukum buang ke tempat terpencil bagi pasangan yang melanggar aturan tertentu. Semua itu, menurut catatan Thahir dibuat oleh penguasa kerajaan agar penduduknya disiplin dan siap menghadapi kedatangan penjajah Peranggi (Portugis).
Hampir semua warga Aceh menurut Thahir adalah prajurit yang siap membela kerajaan sampai mati. Mereka mempunyai kemampuan bela diri yang hebat. Salah satu rahasia kehebatan mereka adalah "minyak rahasia" yang bisa dituangkan ke air dan tetap mampu menyalakan api. Agar tidak ketahuan Peranggi, Sultan memonopoli produksi minyak ini.
Catatan paling menarik adalah riwayat dinasti penguasa Aceh. Di dalamnya disebutkan bahwa Hakim atau pengadil Aceh adalah seorang Sayid yang berasal dari Najaf (Iraq). Konon Sayid ini yang berasal dari keluarga terpandang telah berhasil memberi kesan yang bagus bagi penguasa Aceh sehingga dia bisa menetap di kerajaan.
Pada suatu hari Sayid mendengar ada suara-suara aneh dari gunung. Dia diberi tahu bahwa suara itu berasal dari para bidadari yang sedang mandi. Sayid tertarik dengan hal itu dan dia mencari kolam pemandian bidadari. Sesampai di sana dia sembunyi. Begitu bidadari datang dari gunung, Sayid menyembunyikan selendang salah seorang bidadari. Kisah selanjutnya mudah ditebak, salah satu bidadari tidak bisa terbang pulang, lalu Sayid yang menolong bidadari itu dan menjadikannya istri. Dari sanalah muncul generasi penguasa Aceh selanjutnya.
(Susi Susanti)