Yang ketiga, ideologi Neo-Taliban sekarang adalah ideologi yang sama dengan Taliban pada waktu pre 9/11. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap internalisasi pola-pola diplomasi yang menjadi wajah baru neo-Taliban sekarang.
Ketiadaan komando utama dalam struktur pemerintahan, dan ketiadaan identitas nasional akan berpotensi menciptakan perlawanan dari para kombatan dan milisi di lapangan, dengan kepemimpinan politik Neo-Taliban yang selama perang menikmati hidup yang nyaman di Doha, Qatar.
Dengan demikian maka sudah seharusnya negara Indonesia, dan masyarakat Internasional menanti apa yang akan terjadi di Afghanistan dengan pemerintahan baru Neo-Taliban ini. Pemerintah Indonesia khususnya, tidak perlu terburu-buru untuk ikut dalam optik diplomasi yang dimainkan Neo-Taliban sekarang. Kita harus menunggu sampai wajah Neo-Taliban yang sebenarnya terbuka dengan sendirinya.
Alto Labetubun - Analis Konflik dan Keamanan
(Pernah bekerja di Afghanistan 2011 - 2012)
(Qur'anul Hidayat)