“Kita harus mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang maju dan mampu mengelola sampahnya. Saya menitipkan agar Pimpinan Daerah dan DPRD untuk bahu membahu untuk membuat rakyat sejahtera dan dapat menikmati kebersihan,” tutup Menko Luhut.
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarvest) berkomitmen terus mengakselerasi amanat Peraturan Presiden (Perpres) No.35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan (PSEL) yang berfokus kepada 12 Kota besar di Indonesia.
Diketahui, Realisasi investasi bidang pengolahan sampah berteknologi ramah lingkungan resmi terlaksana, antara PT. Oligo Infra Swarna Nusantara (Oligo) dengan Pemerintah Kota Tangerang
Presiden Direktur PT Oligo Infra Swarna Nusantara, Jacques Assouline menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Pusat khususnya Kemenko Marvest, Pemkot Tangerang, dan DPRD Kota Tangerang yang telah mendukung proses pembahasan kerjasama investasi hingga penandatangan ini dapat berjalan dengan lancar.
Penandatanganan PKS dilakukan antara Pemerintah Kota Tangerang yang diwakili oleh Walikota Tangerang Arief R. Wismansyah dan PT. Oligo Infra Swarna Nusantara diwakili oleh serta Komisaris Utama Prof. Dr. Bambang P. Brodjonegoro.
Jacques juga menjelaskan nilai investasi Oligo pada PSEL Kota Tangerang yakni sebesar Rp 2,585 triliun atau USD 184,65 juta (Rp 14.500/USD). Nilai investasi ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia telah berhasil menjadi negara yang ramah investor dan sekaligus membuktikan komitmen Indonesia dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui peningkatan tata kelola persampahan.
Sementara, Presiden Komisaris PT Oligo Infra Swarna Nusantara, Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa Indonesia harus mampu meninggalkan pengolahan sampah cara-cara tradisional.
"Aktivitas ekonomi yang selama ini bersifat linier di mana limbahnya tidak terurus dan menjadi beban perlu diberikan distrupsi produktif dengan ekonomi sirkuler dimana limbah yang muncul dari kegiatan ekonomi akan diolah kembali sekaligus menjadi nilai tambah yang produktif seperti energi", jelas Bambang.
(Khafid Mardiyansyah)