KIEV - Tentara elite Chechnya yang ditakuti telah ditarik dari zona perang setelah kehilangan beberapa ratus anggotanya, demikian klaim intelijen militer Ukraina.
Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengatakan pasukan Chechnya, juga dikenal sebagai Kadyrovites, telah kembali ke Grozny, ibu kota Chechnya. SBU mengklaim bahwa tentara Chechnya telah ditarik dari Ukraina setelah menderita banyak kematian dalam tiga minggu pertama perang.
Laporan pasukan Chechnya yang berpartisipasi dalam invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada hari-hari pertama invasi Rusia pada 24 Februari.
Pada 26 Februari sebuah video mulai beredar tentang prajurit Chechnya mengibarkan bendera Rusia di sebuah gedung unit militer di Hostomel, sebuah desa 50 kilometer barat laut ibukota Ukraina.
Angkatan Bersenjata Ukraina mengautentikasi video tersebut, tetapi membantah klaim di dalamnya bahwa mereka telah melawan tiga serangan Ukraina. Ukraina mengatakan bahwa daerah yang diserbu itu kosong pada saat itu.
Sehari kemudian, tiga hari setelah invasi dimulai, komandan Resimen Bermotor ke-141 dari Rosguard Chechnya, Jenderal Magomed Tushayev, meninggal.
Selama upaya untuk mendarat di Bandara Hostomel dari 26 dan 28 Februari, "beberapa ratus" pejuang Chechnya kehilangan nyawa mereka, kata petugas intelijen SBU sebagaimana dilansir Mirror.
Sebuah kolom besar yang tampak seperti tentara Chechnya dan mesin militer kemudian difilmkan di Bucha, utara Kiev.
Video berikutnya muncul dari serangan udara yang diluncurkan ke sana dan puing-puing banyak kendaraan tentara.
Ramzan Kadyrov, Presiden Chechnya, awalnya menyangkal adanya korban di antara para pejuangnya, tetapi pada 28 Februari ia mengakui kematian dua prajurit Chechnya, tanpa menyebutkan nama mereka.
"Sayangnya, ada korban di antara penduduk asli Republik Chechnya. Dua meninggal dan enam lainnya terluka," tulisnya di Telegram.