“Ini bukan hadiah dari siapa-siapa, tapi ini adalah rahmat Allah dan hasil dari ikhtiar untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk. Dengan pluralitas yang sangat otentik. Jadi pluralitas kita, keberagaman kita itu otentik, bukan buat-buat. Keberagaman otentik adalah keberagaman yang lahir dari kesadaran,” lanjut dia.
Lebih jauh TGB menjelaskan, keberagaman tak ubahnya sebagai tulang belakang bagi Indonesia. Dia berharap tulang belakang itu akan terus kuat, sehingga keberagaman yang terjadi di Indonesia tetap kondusif, seperti halnya pluralis otentik.
“Indoneisa itu seperti manusia ya. Manusia itu kan punya panca indera, maka yang menjadi backbone dari manusia yang namanya indonesia itu adalah keberagaman kita. Jadi kesadaran kita untuk hidup bersama, menghormati satu sama lain itu seperti tulang belakang ya. Kalau tulang belakang ini tetap tegak, maka indonesia juga akan tetap tegak dan bisa berjalan dan bahkan berlari cepat,” tegas dia.
(Khafid Mardiyansyah)