Pada 1915, Tjokroaminoto menjadi ketua Central SI yang merupakan gabungan dari SI di daerah-daerah. Sejak saat itu, ia terus berjuang mengukuhkan eksistensi SI. Dalam naungan organisasi ini, Tjokroaminoto berjuang untuk menghapuskan diskriminasi usaha terhadap pedagang pribumi.
Dengan kata lain, SI berupaya menghilangkan dominasi ekonomi penjajah Belanda dan para pengusaha keturunan Cina. Maret 1916, SI diakui secara nasional oleh pemerintah Hindia Belanda. Memang, berbeda dengan pemuda keturunan bangsawan lainnya, HOS Tjokroaminoto merupakan tokoh yang berupaya keluar dari belenggu budaya Jawa.
Tak mengherankan, Tjokroaminoto tidak memilih organisasi Budi Utomo sebagai wadah perjuangannya. Padahal, Tjokroaminoto layak bergabung dalam organisasi eksklusif priyayi itu. Ayahnya, RM. Tjokroamiseno adalah Wedana di Kleco, Madiun; sedangkan kakeknya, RM Tjokronegoro adalah Bupati Ponorogo.
Selain kemerdekaan Indonesia, pokok gagasan Tjokroaminoto yang terkenal adalah pentingnya kebebasan berpolitik serta perlunya membangkitkan kesadaran akan hak-hak kaum pribumi. Gagasan patriotiknya bisa dilihat dalam berbagai ceramah dan tulisan di media massa seperti Bintang Surabaya, Utusan Hindia, Fajar Asia.
Tjokroaminoto juga melakukan gerakan penyadaran itu terhadap anak-anak muda yang indekos di rumahnya di Surabaya. Ia ingin bangsa Indonesia memiliki pemerintahan sendiri dan terbebas dari belenggu penjajahan.
Paling tidak, untuk tahap awal, bangsa Indonesia bisa menyalurkan suaranya dalam masalah politik, misalnya, lewat pembentukan sebuah parlemen sebagai perwujudan prinsip demokrasi. Dengan begitu, kehidupan bangsa Indonesia diatur oleh perundangan-undangan yang diputuskan oleh bangsa Indonesia sendiri di lembaga itu.