Gagasan Tjokroaminoto itu dilontarkannya di tengah-tengah Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam pada 1916. Tentu saja, di masa itu pandangan tersebut dinilai sangat luar biasa berani dan progresif. Tak lama setelah ia mengusulkan pembentukan sebuah parlemen, tepatnya pada 1918, pemerintahan kolonial Belanda bersedia membentuk Dewan Rakyat 77 (Volksraad).
Tjokroaminoto dan tokoh SI lainnya, yaitu Abdul Muis dan Agus Salim terpilih sebagai anggota dewan itu. Mereka pun bertekad untuk membentuk parlemen sejati. Ketiganya sempat mengeluarkan mosi agar anggota parlemen dipilih dari dan oleh rakyat, serta membentuk pemerintahan yang bertanggung jawab kepada parlemen.
Sayang, mosi itu ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal itu pulalah yang memaksa SI untuk mengambil alih sikap nonkooperasi dengan pemerintah.
Pada kongres 1923 yang diadakan di Madiun, SI akhirnya diu bah menjadi partai politik, dengan nama Partai Sarekat Islam (PSI). Partai itu bertekad untuk menentang pemerintah Belanda yang melindungi kapitalisme.
Sebelum cita-citanya terkabul, pada 17 Desember 1934, Tjokro harus menghadap Sang Khalik. Tapi, ia meninggalkan seorang murid yang kelak akan meneruskan harapannya. Soekarno pun mengakuinya: "Tjokroaminoto adalah salah satu guru saya yang amat saya hormati. Kepribadian dan Islamismenya sangat menarik hati saya."
Tulisan ini dilansir dari 'Buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia'
(Arief Setyadi )