Pihaknya sejatinya tak menyiapkan tempat di kafenya itu pada pihak tertentu saja, tapi siapapun boleh datang dan makan di kafenya. Maka itu, tak benar bila disebut-sebut kalau kafe miliknya itu menjadi tempat berkumpulnya komunitas LGBT.
"Kalau di sini, kafe kami normal. Saya tidak menyediakan tempat bagi kaum apapun. Kami tidak memandang suku ras agama, cewek-cowok, kami persilakan untuk makan di sini," katanya.
Tuduhan bahwa kafenya merupakan tempat berkumpulnya komunitas LGBT, menurutnya, sebagai upaya pembunuhan karakter.
Dia tak tahu siapa yang memvideokan kejadian itu hingga viral. "Yang membuat caption LGBT ini apakah dia ahli dalam bidang ini. Menurut saya itu penggirang publik dan pembunuhan karakter, khususnya bagi tempat saya," ujarnya.
(Arief Setyadi )