Maya melihat dengan takjub bagaimana pesawat-pesawat bergantian lepas landas dan mendarat. Mimpi baru terbentuk dalam benaknya, dia memutuskan ingin menjadi pilot.
Tentu saja, banyak yang meragukan mimpinya itu. Beberapa teman dan keluarga bahkan berkata, "Kamu perempuan, mengapa ingin menjadi pilot? Siapa yang mau mempekerjakan pilot perempuan?"
Industri penerbangan komersial hingga kini masih didominasi kaum pria. Secara global hanya satu dari 20 pilot adalah perempuan, menurut data Air Line Pilots Association.
BACA JUGA:Absen dari Sidang, Pihak Putra Siregar Menilai Alasan Muhammad Nur Alamsyah Tidak Masuk Akal
Meski begitu, tekad Maya sudah bulat. Dia kemudian diterima masuk sebuah universitas di London untuk belajar teknik penerbangan jurusan pendidikan pilot pada 2017.
Dia mencari pekerjaan paruh waktu, menjadi pembicara di berbagai acara, meminjam uang, dan menabung untuk bisa masuk kokpit.
"Penerbangan pertama saya sangat membuat tertekan dan saya tak menyukainya. Saya merasa sangat kewalahan dan tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya," kenang Maya.
"Telinga dan kepala saya sakit. Kami lepas landas dan saya sama sekali tidak bisa memahami apa yang dikatakan oleh radio."
Namun empat tahun setelah tiba di Inggris, Maya akhirnya berhasil terbang solo. Ketika sedang bersiap lepas landas, namanya disebutkan di radio dari ruang kontrol lalu lintas udara.
"Penerbangan pertama saya sangat cepat. Saya memutari bandara lalu mendarat lagi. Itu sangat menyenangkan, dan saya bangga pada diri sendiri," ucapnya.