Berjibaku demi cita-cita
Mimpi Maya belum berakhir. Dia masih ingin mendapatkan gelar master dan mengambil lisensi pilot untuk pesawat komersial.
Untuk bisa melakukannya, dia harus mengumpulkan 150 jam terbang. Untuk setiap jam terbang, dia harus mengeluarkan uang sebesar £200 (Rp3,9 juta).
Selain melanjutkan kuliah, Maya juga terus mengkampanyekan hak-hak untuk para pengungsi. Dia berbicara di TED talk dan tahun ini ditunjuk menjadi duta persahabatan (goodwill ambassador) untuk UNHCR.
UNHCR berharap bisa mengajak Maya ke kamp-kamp pengungsian dan bertemu dengan para pengungsi setelah pembatasan perjalanan karena Covid telah diangkat.
Badan PBB ini menargetkan 15% populasi pengungsi bisa melanjutkan pendidikan tinggi hingga 2030.
Maya sendiri meyakini bahwa pendidikan adalah hal yang penting, seperti halnya makanan dan minuman, namun dia berkata prioritas utamanya saat ini adalah mengubah persepsi tentang pengungsi dan mendapatkan lebih banyak dukungan dari masyarakat.
"Membantu pengungsi bisa dengan hal-hal mudah. Dari memberikan kebaikan kecil seperti tersenyum pada mereka, membantu mereka mengenali kota dengan lebih baik, dan membantu mereka mendapatkan keterampilan untuk mendapat pekerjaan."
BACA JUGA:Korupsi Proyek Mamberamo Tengah, KPK Geledah Apartemen dan Rumah di Bekasi hingga Sleman
Dia mengungkapkan kesuksesannya bisa menginspirasi pengungsi lain untuk melewati segala kesulitan dan meneruskan pendidikan.
"Saya ingin orang tahu kalau kesuksesan tidak akan diraih dengan mudah. Saya datang dari Suriah, saya datang dari tengah-tengah konflik dan saya seorang pengungsi.
Dia juga mengatakan, saat orang-orang mendengar ceritanya, mereka terperangah — dan ini, lanjutnya, sangat membantu mengubah persepsi tentang pengungsi.
(Nanda Aria)