Seorang pria mengatakan kepada BBC, ia keluar dari apartemennya di lantai 30 setelah merasakan getaran gempa. Saat ia menyadari terjebak, dia menjadi bagian di antara banyak orang yang yang mengeluh dan berkumpul di balik gerbang.
"Mana yang lebih penting? Lockdown atau gempa bumi?" teriak Lu Siwei seorang pengacara di Chengdu.
Kata dia, teriakan itu mendapat respons dari tetangganya: "Jangan menyulut emosi, dan jangan bicara politik." Setelah sempat adu argumen, Lu mengatakan pria itu menyerangnya secara fisik.
Belum ada laporan yang menghubungkan antara korban jiwa akibat gempa dengan kebijakan karantina wilayah. Tapi laporan semacam ini telah memicu kecaman luar biasa dari warganet di Weibo.
"Ini konyol kalau kita harus membahas pertanyaan seperti itu," kata seorang komentator di bawah unggahan situs berita lokal. Berita ini mengutip seorang pengacara yang mengatakan warga negara "secara konstitusional" bebas untuk melarikan diri ke tempat yang aman.
Unggahan ini telah dilihat lebih dari 3,7 juta kali pada Selasa, (6/9/2022) kemarin.
"Menurut saya, tidak apa-apa saya mati di dalam bangunan, asalkan saya tidak mati karena terinfeksi virus corona," kata komentator lainnya secara sarkas, sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.
Komisi Kesehatan Chengdu kemudian mengunggah dalam akun resmi WeChat bahwa "prioritas harus diberikan untuk keselamatan hidup masyarakat jika terjadi gempat bumi, kebakaran, banjir dan bencana lainnya".