Setiap atlet memiliki teknik khasnya sendiri. Weston dikenal karena gaya berjalannya yang sedikit bergoyang sehingga kadang-kadang dia dijuluki "Willy Wobbler".
Sementara itu, Daniel O'Leary dikenal karena suka memompa lengannya seperti piston dan mengamit jagung di tangannya, yang dia bilang membantu menyerap keringat.
"Anak-anak kecil akan meniru pejalan kaki favorit mereka," kata Algeo.
Obsesi ini kemudian memunculkan kartu-kartu koleksi, yaitu gambar para atlet selebritas yang dicetak di bungkus rokok.
Semakin mereka terkenal, para atlet ini pun semakin berlagak seperti orang tenar. Dalam sebuah lomba di London, misalnya, seorang atlet meminta air dari Kota Chester yang berjarak 321 kilometer jauhnya, hanya karena air itulah yang diminumnya saat berlatih. Persaingan di antara para atlet pun merebak.
Pedetrianisme juga diwarnai dengan skandal doping. Pada 1876, Weston didapati mengunyah daun koka saat bertanding.
Penggunaan produk alami sebagai stimulan ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh peradaban Inca di Amerika Selatan, yang memakainya untuk melepas kelelahan dan kelaparan.
Meski hingga saat ini penggunaan koka ilegal di banyak negara karena zat adiksinya, pada saat itu mengunyah koka tak sepenuhnya melanggar hukum, tapi hanya dianggap tak sportif. Alasan Weston pun klasik: dia dianjurkan oleh dokter.
"Pedestrianisme sangat populer karena beberapa alasan," kata Algeo.
"Anda harus mengingat bahwa saat itu industrialisme berkembang pesat, orang-orang pindah ke kota untuk bekerja di pabrik-pabrik. Mereka bekerja sepanjang malam dan harus bangun pagi-pagi. Dan karena perlombaan pedestrianisme berlangsung selama enam hari, arena selalu buka."
Para pekerja bisa keluar dari pabrik jam tujuh pagi, lalu bergabung dengan keramaian di perlombaan pedestrian dengan sedikit uang.
Bertarung melawan kuda
Perlombaan Great Six Days kemudian diikuti oleh olahraga ketahanan lain, seperti Self-Tanscendence yang berlangsung selama 53 hari yang melelahkan. Para kontestan harus berjalan nyaris 100 kilometer per hari untuk mencapai target.
Tapi bagaimana stamina seperti ini mungkin tercapai secara biologis? Salah satu teori yang banyak diperdebatkan adalah sejarah evolusi.
Nenek moyang manusia kerap melakukan perburuan hewan selama berjam-jam atau berhari-hari, sampai hewan tersebut pingsan karena kelelahan dan dapat dengan mudah dibunuh.
Beberapa masyarakat pemburu-pengumpul masih menggunakan teknik ini hingga saat ini, seperti suku San di Afrika bagian selatan.