Sebagai primata yang tak berbulu dan banyak berkeringat, manusia lebih unggul dari hewan berbulu seperti rusa, yang tak punya kemampuan sama untuk melakukan evaporasi guna mengurangi panas sehingga lebih cepat kepanasan dalam perjalanan jarak jauh.
Pada 1818, atlet pedestrian Inggris, J Barnett, membual bahwa dia dapat mengalahkan seekor kuda. Kuda itu menang dengan jarak 288 kilometer, sementara Barnett hanya berhasil berjalan 254 km, walaupun kuda tersebut membawa beban seberat 76 kilogram.
Lebih dari 60 tahun kemudian, Guyon mencoba pertaruhan yang sama — lagi-lagi manusia kalah, dengan jarak 80 kilometer selama 52 jam (dia menyalahkan udara yang dingin).
Tapi bagaimana dengan perlombaan selama enam hari? Setelah percobaan pertama yang tak sukses, pada 1880, sebanyak 15 laki-laki dan lima kuda berlomba di sebuah trek di Chicago.
Di hadapan penonton yang membludak, kuda-kuda mulanya mengalahkan lawan berkaki dua mereka. Di hari kedua, salah satu kuda mencapai 354 kilometer sementara manusia yang tercepat baru sampai 313 kilometer.
Tapi kemudian hal yang tak disangka-sangka terjadi.
Pada hari kelima, kuda yang paling memimpin, yaitu kuda betina bernama Betsy Baker, berhenti merespons cambukan dan istirahat selama dua jam.
Ternyata dia kelelahan, dan tidak ada yang bisa membuatnya mau berjalan kembali selain champagne. Michael Byrne dari New York menang dalam perlombaan melawan kuda, dengan 930 kilometer atas 906 kilometer.
Tahun lalu, sekelompok ilmuwan meneliti mengapa ini bisa terjadi. Mereka menganalisa hasil dari tiga pertandingan manusia melawan kuda dan membandingkannya dengan kondisi pada hari ketika duel itu berlangsung.
Mereka mendapati kecepatan kuda menurun dengan lebih cepat ketika hari panas, dibandingkan dengan manusia.
Para penulis penelitian ini menyangka ini alasan mengapa manusia mampu beradaptasi dengan lari jarak jauh dalam suhu panas.