Ketika Jalan Kaki Lebih Populer Dibandingkan Sepak Bola, Lomba Berlangsung Selama 6 Hari

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Rabu 28 September 2022 06:04 WIB
Pada abad ke-19, jalan kaki lebih populer ketimbang sepak bola dengan lomba yang berlangsung selama 6 hari. (Via BBC)
Share :

Penurunan drastis

Namun pedestrianisme hanya sekejap saja menikmati kejayaan.

Pada Maret 1881, ketertarikan terhadap olahraga aneh ini tiba-tiba menurun drastis. Dalam perlombaan O'Leary Belt, kompetisi yang dibuat oleh atlet Daniel O'Leary, surat kabar New York Times menulis laporan buruk.

"Enam orang yang menyedihkan bekerja keras di sekitar trek, di depan kerumunan yang sedikit, dalam jumlah maupun dalam antusiasme, untuk menyoraki enam kontestan itu," tulis mereka.

Ketika selebritas pedestrian Hughes dan Hart pensiun, ketertarikan pada pedestrianisme pun turut punah.

Arena-arena kosong di siang hari, dan pada malam hari jumlah penonton tak sampai 10% dari sebelumnya.

Sebuah surat kabar menulis, "Ini adalah kesimpulan tak terhindarkan. Orang-orang menyadari bahwa pertandingan berjalan kaki, bila mereka bukan dilakukan dalam pertunjukan sirkus, seburuk apapun ini artinya, adalah pertunjukan yang brutal, dan tak bisa ditoleransi oleh masyarakat yang berbudaya."

Realitas memalukan yang ditulis oleh reporter ini adalah rahasia kelam dalam pedestrianisme.

Meskipun berjalan selama enam hari terdengar menyehatkan, pedestrianisme lebih mirip pertunjukan para pesakitan ketimbang pamer ketahanan.

Dengan sedikit atau tanpa tidur sama sekali, kebanyakan minum champagne dan injuri yang kerap dialami, para pedestrian elit lebih sering menjalani separuh perlombaan dengan terpincang-pincang dan terhuyung-huyung.

"Itu mengerikan, tapi pada masa itu, ini menghibur bagi orang-orang," ujar Algeo.

Pedestrianisme tak langsung menghilang, tentu saja. Pada akhirnya, olahraga ini bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih manusiawi bagi publik.

Sama seperti cikal bakalnya, perlombaan di masa kini melibatkan berjalan kaki dengan jarak tertentu dalam waktu secepat mungkin — biasanya lebih masuk akal, seperti 20 kilometer (jarak untuk Olimpiade perempuan) atau 50 kilometer (jarak bagi laki-laki).

Untuk membedakannya dengan lari, satu kaki harus selalu ada di atas tanah setiap kali menapak.

Dan mungkin, terlalu cepat untuk mengatakan bahwa pedestrianisme sudah sama sekali tak ada.

"Perlombaan ketahanan semacam ini selalu ada sepanjang sejarah," kata Derek Martin, mahasiswa doktoral yang mempelajari pedestrianisme di Manchester Metropolitan University.

Maraton, yang pertama kali diluncurkan sebagai cabor Olimpiade pada 1896, terinspirasi dari legenda Yunani, seorang pembawa pesan bernama Pheidippides, yang lari dari Kota Marathon ke Athena.

Selama beberapa dekade, maraton hanya digelar saat Olimpiade. Hingga pada tahun 70-an dan 80-an, kompetisi maraton untuk publik bermunculan.

"Tak ada yang mengira orang biasa bisa ikut lomba lari maraton," kata Martin. "Dan tentu saja sekarang Anda sering kali mendengar teman Anda berkata, 'Saya akan berangkat ke Maraton Paris tahun depan' dan 'Bisakah Anda mensponsori saya?' Semua kegilaan semacam ini," tutup Martin.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya