Mudjiati baru merasakan udara bebas pada Desember 1979.
Walau bukan anggota Gerwani, ia dituduh melakukan apa yang ditudingkan dalam kampanye fitnah penguasa terhadap Gerwani.
"Anak-anak muda itu pasti dituduhnya nyilet-nyilet kemaluan jenderal, tari telanjang. Itu tuduhan itu semua begitu, pada perempuan," tutur perempuan berusia 73 tahun itu kepada BBC News Indonesia.
Beberapa pekan sebelum penangkapannya, pada Oktober 1965, rumahnya digeledah oleh sejumlah tentara yang mencari alat pencungkil mata. Saat itu juga, ayahnya yang merupakan anggota Front Nasional ditangkap.
Oleh tentara yang menjemputnya, Mudjiati diberitahu hanya "dimintai keterangan" terkait penangkapan ayahnya dan dijanjikan pemeriksaan dilakukan "paling lama dua jam".
"Penyiksaan itu pasti kalau kita bilang tidak pada apa yang dituduhkan pada saya, sebagai yang ikut tari Genjer-Genjer, tari telanjang," aku Mudjiati ketika ditanya apakah dirinya mengalami penyiksaan selama proses pemeriksaan.
"Saat kita tidak mengakui, kita dipaksa harus mengakui. Itu kita pasti dipukuli di situ. Tapi saya bertahan karena saya tidak merasa [melakukan]. Apapun yang terjadi, saya alami saja," tutur Mudjiati.
Alih-alih dua jam, Mudjiati menghabiskan 14 tahun masa mudanya di dalam kungkungan terali besi lantaran menolak mengakui tuduhan itu.
Ia dipindahkan dari tempat penahanan satu ke yang lain, dari tahanan KORAMIL, KODIM, Rumah Tahanan Chusus Wanita (RTCW) Bukit Duri, hingga dipindahkan ke Inrehab Plantungan, kamp khusus tapol perempuan di Kendal, Jawa Tengah.
Yosephina Endang Lestari juga mengalami hal serupa.
Kala itu, anggota organisasi mahasiswa Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) — organisasi underbow PKI — itu baru menjalani tahun kedua kuliah di IKIP Yogyakarta demi meraih cita-citanya menjadi seorang guru.
Ketika pemeriksaan, para tentara mencari cap Gerwani di tubuhnya. Ia disuruh menanggalkan pakaian, namun tak ada yang menemukan cap tersebut.
"Di situ cuma ditanya,'Kamu Gerwani ya?'. Mau diperiksa ada capnya nggak di dalam, 'Nggak ada, saya bukan Gerwani', saya bilang gitu. Tapi dipaksa [untuk menanggalkan pakaian]," aku Endang.
"Pendirian saya, kalau saya sampai disentuh lebih baik saya mati daripada nanti kalau ada apa-apa."
Sama seperti Mudjiati, ia dipindahkan dari satu tahanan ke tahanan lain. Ia sempat ditahan di Penjara Wirogunan di Yogyakarta selama dua pekan. Di sana, ia berbagi satu kamar kecil bersama sekitar 30 tahanan lain.
"Pokoknya tidurnya seperti dijejer-jejer pindang. Kalau mau miring, 'Aku arep miring ngiwo' [aku mau miring ke kiri], bareng-bareng miringnya."