Kisah Perempuan Dituduh Gerwani hingga Stigma yang Belum Hilang

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 05:05 WIB
Kisah para perempuan yang dituduh Gerwani. (BBC)
Share :

Apa yang terjadi setelahnya, adalah perburuan dan pembantaian anggota PKI dan afiliasinya — termasuk Gerwani — oleh kelompok anti-komunis.

"Pelan-pelan suasana diciptakan di mana PKI dan Gerwani dihancurkan, pembunuhan massal yang terjadi, mungkin satu juta orang dibunuh. Kita dengan IPT, hakim-hakim kita sudah memutuskan bahwa itu memang termasuk genosida terbesar setelah Perang Dunia II," katanya.

Kendati belum ada angka pasti berkaitan jumlah korban pembantaian tersebut, sebagian besar sejarawan sepakat bahwa setidaknya setengah juta orang menjadi korban keganasan propaganda tersebut.

Secara keseluruhan, tragedi 65 membuat belasan ribu orang dipenjara, dibuang, disiksa, tanpa proses pengadilan, atau diberi kesempatan pembelaan diri.

Sementara, hasil penyelidikan Komnas HAM, sekitar 32.774 orang diketahui telah hilang dan beberapa tempat diketahui menjadi lokasi pembantaian para korban.

Penghancuran gerakan perempuan

Lebih lanjut Saskia mengatakan, propaganda yang berpusat pada "penyimpangan seksual anggota Gerwani", serta penggambaran PKI sebagai ateis dan anti-nasionalis tak hanya memicu pada pembunuhan massal orang-orang berhaluan kiri, tapi juga penghancuran gerakan perempuan progresif.

"Saya rasa sesudah propaganda [Joseph] Goebbels [Menteri Penerangan Publik dan Propaganda Nazi Jerman] dalam Perang Dunia II tentang orang Yahudi, propaganda terhadap Gerwani adalah yang mungkin lebih efektif lagi, karena mungkin 50 tahun sesudah itu terjadi orang masih percaya. Sampai sekarang pun Gerwani punya nama jelek," kata Saskia.

Menilik sejarah, Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) yang dibentuk pada 1950 merupakan gabungan organisasi perempuan dari sejumlah daerah yang menjadi cikal bakal Gerwani.

Menurut Saskia, kebanyakan dari mereka yang tergabung di dalamnya adalah perempuan "nasionalis dan membantu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia". Salah satunya, SK Trimurti, seorang jurnalis perempuan pejuang kemerdekaan.

"Situasinya waktu itu adalah seluruh gerakan perempuan terarah kepada kemerdekaan, nasionalis, dan Gerwani juga ikut dalam itu, dan Gerwani yang terbesar dalam periode itu".

Gerwis — yang pada 1954 berganti nama menjadi Gerwani — mencurahkan perhatian pada masalah pemberantasan buta huruf dan pendirian sekolah.

"Banyak perempuan yang tidak bisa baca, tidak bisa tulis apa-apa dan orang Gerwani membantu. Anggota Gerwani juga selalu aktif di dalam perjuangan di dalam rumah tangga.

Organisasi itu juga menuntut perlunya hak-hak perempuan, termasuk tentang poligami.

"Malah di dalam organisasi sendiri, kalau ada pimpinan PKI yang ambil istri kedua mereka berdemo, sampai orang itu keluar," kata dia.

Tak hanya berfokus pada isu perempuan, Gerwani juga menjadi organisasi paling aktif dalam politik nasional juga isu internasional.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya