Kisah Perempuan Dituduh Gerwani hingga Stigma yang Belum Hilang

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 29 September 2022 05:05 WIB
Kisah para perempuan yang dituduh Gerwani. (BBC)
Share :

Perempuan sebagai 'konco wingking'

Stigma itu kian langgeng meski Peristiwa 65 sudah berlalu, ketika pada era 1980-an, pemerintah Indonesia menugaskan sutradara Arifin C Noer membuat film yang mengisahkan Peristiwa 65 dari kacamata pemerintah.

Film berjudul Pengkhianatan G30S/PKI itu menjadi tontonan wajib semua penduduk Indonesia hingga akhirnya Soeharto lengser pada 1998 dan disusul dengan Reformasi. Bahkan, hingga kini film tersebut masih sering diputar tiap akhir September.

Menurut Saskia Wieringa, "fitnah seksual" terhadap kelompok perempuan progresif sekaligus mengontrol perempuan dengan propaganda tersebut "demi menjaga stabilitas negara".

Padahal, metode yang dilakukan Gerwani dalam membela hak-hak perempuan — seperti menentang kekerasan seksual dan domestik, serta kawin paksa atau perkawinan anak — "sangat penting", kata Saksia, bahkan untuk konteks masa sekarang.

"Semua hal yang diperjuangkan oleh perempuan Gerwani masih tetap ada. Kita bisa belajar dari pengalaman mereka karena mereka punya banyak sukses. Sekarang gerakan perempuan di Indonesia aku pikir cukup lemah," aku Saskia.

Imbasnya, di era Orde Baru peran perempuan kembali mengurusi urusan domestik, ketimbang urusan sosial-politik.

Hal sama dikemukakan oleh Amurwani Dwi Lestariningsih dari Masyarakat Sejarawan Indonesia, yang juga meneliti tentang perempuan penyintas 65.

"Di dalam budaya patriarki di masyarakat kita yang begitu kuat dominasi laki-lakinya, aneh melihat Gerwani memasuki pentas ranahnya laki-laki," ujar Amurwani.

"Jadi, kalau perempuan itu harus yang lemah lembut, menjadi konco wingking kaum laki-laki, jadi jangan mengambil ranahnya laki-laki. Peranannya domestik, jangan ke ranah publik."

Propaganda terhadap Gerwani yang langgeng selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru, lanjut Amurwani, membuat "sesuatu yang menjengkelkan, yang dianggap jahat, dikonotasikan dengan Gerwani".

"Pengalaman dan pengetahuan yang terbangun menjadikan masyarakat memberikan legitimasi, menjustifikasi, menstigma kepada mantan tapol perempuan itu. Gerwani yang dicitrakan sebagaimana yang mereka baca, mereka lihat, mereka dengar dari pemberitaan masa itu, dan itu kan terus diinternalisasikan ke generasi-generasi selanjutnya," jelas Amurwani.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya