Tragedi di Stadion Kanjuruhan Jadi Bencana Sepak Bola Terbesar Kedua di Dunia, Jokowi Minta Liga Dihentikan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Minggu 02 Oktober 2022 14:29 WIB
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur/Antara
Share :

Seorang saksi mata, Dwi, kepada Kompas menceritakan detik-detik terjadinya peristiwa kelam itu.

Dwi mengaku melihat banyak orang terinjak-injak usai gas air mata ditembakkan polisi ke arah tribun penonton.

"Selain itu saya lihat ada banyak orang terinjak-injak, saat suporter berlarian akibat tembakan gas air mata," ujarnya, Sabtu.

Apa kata PSSI dan Kemenpora?

"PSSI menyesalkan tindakan suporter Aremania di Stadion Kanjuruhan. Kami berduka cita dan meminta maaf kepada keluarga korban serta semua pihak atas insiden tersebut,” tulis Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan melalui keterangan resmi di situsnya.

PSSI, sebutnya, “langsung membentuk tim investigasi dan segera berangkat ke Malang”, selain juga “mendukung kepolisian untuk menyelidiki kasus ini”.

Karena tragedi ini, kompetisi Liga 1 2022/2023 dihentikan selama sepekan dan Arema FC dilarang menjadi tuan rumah selama sisa kompetisi, sebut Iriawan.

Di hari yang sama, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali berjanji akan mengevaluasi kondisi keamanan dalam pertandingan sepakbola dan mempertimbangkan laga digelar tanpa penonton, seperti dilaporkan Reuters.

"Ini harus diinvestigasi, tak bisa dibiarkan, dan harus menjadi yang terakhir," kata Menpora Amali dalam program Breaking News.

"Ini sangat memprihatinkan kita semua. Kita turut berduka cita atas musibah ini, di tengah kita sedang mempersiapkan diri untuk melakukan kegiatan-kegiatan sepak bola yang bahkan untuk tingkat dunia," kata dia.

Aturan FIFA tentang gas air mata

Dalam Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19, badan sepak bola dunia FIFA menetapkan petugas keamanan atau polisi tidak boleh membawa senjata api atau “gas pengendali massa” dalam pertandingan sepak bola.

Polda Jawa Timur tidak menjawab pertanyaan tentang apakah pihaknya mengetahui aturan ini, lapor Reuters.

Namun dalam keterangannya kepada pers pada Minggu (2/10/2022), Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta berkata massa telah anarkis.

“Mereka menyerang petugas, merusak mobil,” kata Nico, setelah Arema kalah dari Persebaya, sehingga polisi menembakkan gas air mata untuk “mengontrol situasi”. 

Menurut Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH), ada dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan (excessive use force) melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian masa yang tidak sesuai prosedur ini menjadi penyebab banyaknya korban jiwa.

“Seluruh pihak yang berkepentingan harus melakukan upaya penyelidikan dan evaluasi yang menyeluruh terhadap pertandingan ini,” kata YLBHI dalam siaran persnya.

(Natalia Bulan)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya