JAKARTA – Kisah Sarpan (21), pemuda dari keluarga tak mampu yang kini menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) beberapa waktu lalu viral di media sosial.
Pemuda asal Lebak, Banten tersebut lulus dengan predikat memuaskan. Belajar dari kisah Sarpan, membuktikan bahwa masuk TNI AD tidak menggunakan uang.
(Baca juga: Ketika Bantuan Allah Datang ke Jenderal Sudirman saat Dikepung Belanda Usai Dikhianati Anak Buah)
Warga Kampung Cikawah, Desa Sobang, Lebak, Banten itu saat ini telah lulus Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) TNI AD Gelombang II tahun anggaran (TA) 2021.
"Awalnya saya bertemu dengan Sarpan pada tahun lalu, dan memberikan bimbingan karena ia gigih. Ia ingin sekali sekolah yang tinggi agar dapat membantu kedua orangtuanya yang sudah tak mampu lagi," kata kerabat Sarpan, Faizal, kepada Okezone, beberapa waktu lalu.
Dikatakannya, Sarpan merupakan anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, karena orangtuanya cacat dan menjual gula keliling yang berjarak 12 kilometer jika ingin belanja ke pasar. Sarpan pun bersekolah di SMAN Rangkasbitung bukan dorongan dari orangtua, Sarpan lulus pada 2019.
"Sekolah pun atas kemauan dia sendiri, dan bukan dukungan dari orangtua. Dia ingin sekolah berjenjang yang tinggi. Lalu, dia kuliah tanpa sepengetahuan orangtua dan tinggal di rumah gurunya sambil membantu," ungkap Faizal.
Bahkan kata dia, Sarpan pernah pulang ke Kecamatan Sobang dengan berjalan kaki atau lari kecil sejauh 48 kilometer, dengan kondisi letak geografis naik turun perbukitan.
"Setiap ditawari untuk naik ke kendaraan umum tapi tidak mau, dengan alasan ingin berolahraga. Tapi pada dasarnya dia tidak mau ketahuan jika tidak mempunyai uang dan malu dengan keluarganya," ujar Faizal.
Dikatakan Faizal, Sarpan merupakan pemuda yang berprestasi yang kerap menyandang juara 1 setiap perlombaan di Provinsi Banten.
"Sebenarnya dia itu pemuda berprestasi di Porda, dia tercatat atlet softbol di Kabupaten Lebak dan juga juara 1 ditingkat provinsi. Saya ingin membuktikan jika ingin masuk TNI, Polri atau kedinasan tidak selalu dengan uang," pungkas Faizal.
(Fahmi Firdaus )