Tragedi Kanjuruhan, Akibat Celah Fanatisme Berlebihan yang Tidak Diantisipasi?

Widi Agustian, Jurnalis
Jum'at 07 Oktober 2022 10:12 WIB
Tragedi Kanjuruhan, akibat celah fanatisme yang tidak diantisipasi?
Share :

Alasan Suporter Turun ke Lapangan

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Drajat Tri Kartono mengatakan jika kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan adalah bentuk kekecewaan suporter atas kekalahan Arema FC atas Persebaya.

Kericuhan suporter di Stadion Kanjuruhan, kata dia, tidak lepas dari fanatisme. Drajat menjelaskan, fanatisme berpeluang semakin menjadi-jadi apabila dipengaruhi oleh kompetisi dengan kelompok lain. Jadi, muncul dorongan untuk memperjuangkan kelompoknya sendiri terhadap kelompok lain.

Fanatisme yang sejatinya masih memiliki dampak positif pun aksinya membawa kerugian karena memicu orang-orang untuk bersikap tidak toleran. Dan berkurangnya rasa toleransi karena fanatisme merupakan hal yang otomatis terjadi.

Munculnya sikap tidak toleran terhadap orang-orang di luar kelompok karena fanatisme juga mendorong perilaku irasional.

"Jadi, kejadian yang di Malang itu memang ada beberapa dimensi. Bahwa kejadian itu menjadi kacau balau, 'kan ada orang banyak," kata Drajat.

Situasi suporter Arema turun ke lapangan pada 1 Oktober 2022. (Foto: Avirista M/MPI)

Suporter atau fans sebenarnya organ yang tidak terpisahkan dalam dunia sepak bola. Dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dr. Hery Wibowo, M.Si. menjelaskan, suporter suatu klub sepakbola merupakan identitas sosial yang membanggakan dan mampu meningkatkan citra diri.

Dia menjelaskan, menjadi suporter seperti menjadi identitas sosial yang mampu meningkatkan status atau bahkan harga diri dalam konteks kehidupan bermasyarakat.

"Dari anggota masyarakat yang ‘bukan siapa-siapa’, seseorang dapat merasa menjadi ‘seseorang, atau warga negara berstatus menengah’ dengan menjadi supporter aktif (fanbase) dari klub tertentu,” kata Hery.

Hal ini yang membuat militansi suporter sangat terlihat ketika klub idolanya akan bertanding. Terlebih suporter seperti memuaskan 'dahaga' untuk menyaksikan langsung, setelah sebelumnya tidak ada pertandingan yang dibolehkan ditonton langsung akibat pandemi Covid-19.

Hery lalu menyoroti perilaku crowd (Crowd Behavior). Perilaku ini merupakan fenomena ketika sejumlah orang yang berkumpul dalam suatu kerumunan khusus akan berpotensi menghasilkan perilaku yang tidak akan terjadi pada situasi normal.

Sebuah teori klasik dikemukakan oleh seorang dokter asal Prancis bernama LeBon. Tingkah laku kolektif memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda dari tingkah laku individu. Tingkah laku ini yang oleh LeBon disebut Crowd. Ciri-cirinya adalah sangat emosional, irasional dan spontan.

Ada penularan emosi di antara individu dalam kelompok, sehingga sikap, perasaan, dan tingkah lakunya tampak sama dan seragam.

Fenomana ini membuat memicu perilaku individu berubah menjadi perilaku kolektif. Individu dalam crowd behavior akan memiliki keberanian semu yang mampu memicu keberanian kolektif lainnya. Seorang individu akan merasa sangat berani dan kuat (powerfull), merasa benar, dan tanpa ragu melakukan suatu tindakan.

Akibatnya, dalam konteks Tragedi Kanjuruhan, dalam suasana yang emosional, ketika ada suporter yang turun ke lapangan, suporter lainnya spontan ikut turun, paling tidak mereka ingin meluapkan emosinya.

BACA JUGA:Komnas HAM Pastikan Tak Ada Pemain Arema dan Persebaya yang Terluka di Tragedi Kanjuruhan

Kalahnya Arema dari Persebaya ini menjadi pemicu perilaku crowd. Ini yang membuat para suporter berbondong-bondong turun ke lapangan.

Hery mengibaratkan fenomena ini seperti bagian tubuh yang lengkap, jika ujung jari terasa sakit, maka dirasakan oleh seluruh anggota badan yang lainnya.

Rasa fanatisme ini yang menjadi crowd dan membuat para suporter turun langsung ke lapangan. Walau suporter ini turun ke lapangan untuk memberikan suporter Arema kepada para pemain dengan cara menyampaikan langsung dukungannya untuk tidak bersedih atas kekalahannya. Dukungan ini juga diwujudkan para suporter dengan bentuk fisik, yakni dengan memeluk para pemain.

Tetapi, apakah benar jika fanatisme ini menjadi penyebab Tragedi Kanjuruhan?

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya