Solusinya?
Dr. Hery Wibowo, M.Si menyebut, potensi crowd behavior seharusnya perlu diredam sedini mungkin dengan tata kelola ataupun manajemen pertandingan yang baik. Tetapi, dia menggarisbawahi bahwa antisipasi yang dilakukan bukan berarti harus secara anarkis.
Selain itu, sistem pertandingan lapangan, baik penyelenggara, pemain, dan pengadil harus menjunjung tinggi sportivitas. Penegakan sportivitas dan penyelenggaraan pertandingan yang baik diharapkan dapat menularkan semangat sportivitas ke suporter.
“Penonton wajib terus diedukasi untuk menerima ‘kemenangan dan kekalahan’. Pertandingan yang berjalan sportif, akan dapat diterima baik oleh pendukung tim yang menang ataupun yang kalah,” kata Hery.
BACA JUGA:Temuan Polri di Balik Status Tersangka Dirut PT LIB dalam Tragedi Kanjuruhan
BACA JUGA:Komnas HAM Pastikan Tak Ada Pemain Arema dan Persebaya yang Terluka di Tragedi Kanjuruhan
Sementara itu, Dr. Drajat Tri Kartono menyebutkan jika fanatisme yang ditunjukkan suporter di Stadion Kanjuruhan Malang biasa terjadi dalam dunia sepakbola. Bahkan, fanatisme yang hampir mirip dialami oleh beberapa kelompok pehobi, baik itu kelompk kendaraan bermotor dan silat.
Dia memberikan peringatan risiko akan bahaya apabila fanatisme yang berlebihan tidak dikelola dengan baik. Menurutnya, ada dua faktor yang menyebabkan fanatisme membawa kerugian, yakni gagalnya pengorganisasian dan edukasi.
"Ini sebenarnya pelajaran bagaimana mengorganisir in group feeling agar mereka punya saluran. Karena (fanatisme) itu pasti tersalurkan," kata Drajat.
Menurutnya, supaya fanatisme tidak membawa kerugian termasuk dalam pertandingan sepakbola, Drajat menyarankan agar hierarki kelompok yang besar diorganisir dengan baik.
Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah membangun pendidikan di in group feeling agar anggotanya memiliki berbagai alternatiif kegiatan. "Jadi, harus diajak ke kegiatan-kegiatan lain, seperti membantu penanganan bencana alam," ungkap Drajat.
(Widi Agustian)