Ketujuh, stakeholder lainnya, termasuk penonton di luar stadion, apalagi mereka yang aktif di lini massa, harus memiliki sikap yang lebih dewasa. Mereka juga tidak asal hujat dan akhirnya memprovokasi dari luar arena pertandingan. Jangan bersikap tribal.
Beberapa catatan di atas barulah segelintir poin. Pasti, pemangku olahraga Tanah Air, tidak kekurangan pakar dan ahli untuk membuat roadmap olahraga Tanah Air jauh lebih baik. Namun, paperwork yang begitu rupa dan begitu bagusnya, hanya akan berhenti menjadi onggokan dokumen jika tidak dibarengi dengan konsistensi implementasi di lapangan.
Sekali lagi, Tragedi Kanjuruhan, bisa dijadikan momentum semua stakeholder olahraga nasional, tidak hanya sepakbola, untuk berbebah. Maju terus menuju olahraga Indonesia yang gemilang dan bermartabat.
Baca juga: Cerita Asisten Pelatih Arema FC yang Sempat Panik Cari Putrinya saat Tragedi Kanjuruhan
(Fakhrizal Fakhri )