JAKARTA - Mantan Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan pertemuan G20 di Bali akan menjalin kesatuan persatuan di negara-negara mampu dan kaya termasuk Indonesia.
"Itu artinya mampu dari sudut ekonomi dan ukuran lainnya. Tetapi juga harus diakui, Pertemuan G20 yang akan berlangsung nanti boleh disebutkan sebagai pertemuan G20 yang paling dilematis. Mungkin juga yang paling 'ribet'," ujar JK dalam Diskusi Panel “Global Economy: Reflections and Challenges for Indonesia Post G20 Presidency” Universitas Paramadina-KAS dalam keterangan yang diterima, Rabu (2/11/2022).
Dari beberapa pertemuan G20 terdahulu, kata JK, tidak menemui banyak hambatan, terakhir di Argentina. Tetapi yang di Bali ini akan menghadapi banyak kendala karena adanya perang dan juga masalah-masalah perdagangan.
"Amerika bertentangan dengan Turki dan China serta terakhir malah dengan Arab Saudi. Putin bersengketa dengan negara-negara Eropa sehingga terjadilah krisis ekonomi dunia belakangan ini," ujarnya.
Artinya, sambung Jusuf Kalla, pertemuan G20 yang akan berlangsung nanti tidaklah mulus.
"Namun kita bersyukur pertemuan G20 itu akan dihadiri oleh semua negara anggota, mulai dari kepala negara, dan tingkat menteri-menteri. Kita malah mengharap Indonesia bisa mendamaikan dengan baik para kepala negara anggota G20 misalnya Putin dengan Biden. Walaupun pastinya itu bukanlah hal yang mudah," kata JK.
Soal pertemuan lanjutan setelah G20 nanti, ia mengatakan akan tergantung pada Putin sebagai kepala negara Rusia, apakah dia akan menghentikan perang atau tidak.
"Tetapi yang menjadi dilema adalah jika Putin menghentikan perang maka dia juga akan diberhentikan karena dianggap kalah," imbuhnya.
Jadi, saat ini pun jika ada masalah perekonomian dengan terjadinya inflasi dan krisis gandum, energi, maka penyelesaiannya sangat tergantung dari apakah perang Rusia dan Ukraina akan berhenti atau tidak.
"Jika bisa dihentikan, maka krisis pangan berupa gandum dari Ukraina apakah akan bisa kembali diekspor. Demikian pula gas dari Rusia bisa kembali mengalir ke Eropa dan negara yang membutuhkan. Sehingga dengan demikian ekonomi dunia akan terhindar dari resesi berat dan sebagainya. Hal-hal itulah yang akan dihadapi oleh pertemuan G20 mendatang," tuturnya.
(Angkasa Yudhistira)