JAKARTA - Strain ragi yang ditemukan dalam botol-botol bir dari bangkai kapal yang terkubur selama 120 tahun berhasil menginspirasi industri bir modern.
Bangkai kapal itu bernama Wallachia, kapal kargo yang tenggelam pada 1895 di lepas pantai Skotlandia, setelah bertabrakan dengan kapal lain di tengah kabut tebal.
BACA JUGA:Bir yang Terawetkan Selama 120 Tahun Ternyata dapat Dikembangkan untuk Ciptakan Cita Rasa Baru
Dilansir dari BBC, Senin (12/12/2022), Wallachia baru saja meninggalkan Glasgow dan membawa berbagai kargo, termasuk kontainer besar berisi bahan kimia yang disebut timah klorida.
Tetapi kapal itu juga memiliki ribuan botol minuman beralkohol di dalamnya. Banyak botol-botol bir itu terawetkan dalam air dingin di mana kapal itu terbaring selama lebih dari abad di dasar laut berlumpur.
Sejak dia mulai menyelam ke Wallachia pada 1980-an, Hickman telah menemukan lusinan botol berisi wiski, gin, dan bir.
sudah lama terlupakan tengah dicari dari sebuah bangkai kapal, bangunan pabrik-pbarik yang ditinggalkan, dan lokasi lain dengan harapan dapat dimanfaatkan dengan baik apabila berhasil diekstraksi.
Para ilmuwan di Brewlab, bagian dari University of Sunderland, telah mempelajari strain ragi dan teknik pembuatan bir selama bertahun-tahun.
BACA JUGA: Ini Penyebab Kapal Karam di Pelabuhan Sunda Kelapa
Pendiri perusahaan, Keith Thomas, mengatakan bahwa sekali bir dari Wallachia berada di laboratoriumnya, bir itu diperlakukan amat hati-hati. Thomas senang dengan hasil studi bir Wallachia.
Dia mengatakan kombinasi dua ragi yang mereka temukan dalam bir berusia 126 tahun mungkin bisa menginspirasi inovasi dalam industri pembuatan bir saat ini.
Raginya tampaknya memberikan semacam karakter peternakan atau "kuda basah", tambahnya.
Hal ini barangkali tidak terdengar seperti nama yang menggugah selera, tetapi, dalam jumlah secukupnya, rasa bersahaja seperti itu dapat membantu pembuat bir yang terampil menghasilkan minuman yang unik dan kaya rasa.
Pembuatan bir, bagaimanapun juga, adalah tindakan penyeimbang. Pertimbangkanlah keasaman bir. Terlalu banyak asam secara alami akan mengecewakan, tetapi pada tingkat yang tepat, itu bisa menjadi ramuan yang menyegarkan.
Pembuat bir bereksperimen dengan alternatif Saccharomyces cerevisiae - strain Brettanomyces, misalnya, sering digunakan untuk membuat bir asam, misalnya.
Tetapi ada banyak jenis ragi yang belum dieksploitasi di luar sana hanya menunggu pembuat bir untuk menemukannya, kata Carmen Nueno-Palop di National Collection of Yeast Cultures (NCYC), bagian dari Quadram Institute di Inggris.
"Ada banyak penekanan pada hop," katanya, mengacu pada inovasi terbaru dalam industri bir.