“Betapapun tidak senangnya mereka (Bahrain dan UEA) terhadap munculnya pemerintahan paling kanan Israel, jelas bahwa mereka telah memilih untuk menyuarakan keprihatinan ini secara pribadi, dan berhenti membiarkan mereka menghalangi apa yang mereka lakukan. lihat sebagai hubungan strategis yang penting,” terang Elham Fakhro, seorang peneliti di Pusat Studi Teluk di Universitas Exeter, Inggris, kepada CNN.
Tetapi UEA sebelumnya mengatakan bahwa hubungan yang lebih bersahabat dengan dunia Arab bukanlah lampu hijau bagi Israel untuk memperluas wilayahnya. Pada 2020, Yousef Al Otaiba, duta besar UEA untuk Amerika Serikat (AS), memperingatkan Israel bahwa hubungannya dengan negara-negara Arab akan rusak jika ada “perampasan tanah Palestina secara ilegal.”
Abdullah, profesor dari UEA, mengatakan bahwa Abu Dhabi mungkin memiliki pengaruh atas Israel yang kadang-kadang dapat digunakan secara pribadi. Dia menambahkan bahwa pada akhirnya semua orang tahu bahwa tidak ada orang saat ini yang memiliki pengaruh atas Israel. Bahkan AS sekalipun.
“Tetap saja, hubungan UEA-Israel tidak abadi,” terangnya.
“Hubungan ini akan didikte oleh UEA. Ketika tidak melayani kepentingan UEA. itu bisa runtuh kapan saja,” tambahnya.
(Susi Susanti)