4 Legenda Perang di Indonesia, Ada yang Rela Diberondong Peluru Agar Kawan-Kawannya Bisa Lolos

Tim Litbang MPI, Jurnalis
Jum'at 13 Januari 2023 06:03 WIB
Soeharto memberikan penghargaan kepada Agus Hernoto (ist)
Share :

3. RA Fadillah

Salah satu prajurit TNI yang jadi legenda di medan tempur adalah RA Fadillah. Ia gugur saat menumpas pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Riau pada tahun 1958.

Saat itu, RA Fadillah merupakan kapten Kopassus yang memimpin Kompi B dan ditugaskan untuk mengamankan ladang minyak di Pekanbaru dan menguasai pertahanan musuh.

Ia dan pasukan mendarat di Bengkalis, lalu bergerak ke Lubuk Jambi, Riau. Mereka menempuh medan yang berat berupa sungai lebar serta hutan rawa. Ditambah lagi, hujan mengguyur deras.

Rencana penyergapan pada pukul 9 pagi terpaksa mundur hingga siang hari. Setiba di markas musuh di Desa Cengar, kondisi sudah kosong. Tak tampak pasukan lawan. RA Fadillah dan pasukan kembali masuk ke hutan.

Namun, secara tiba-tiba mereka bertemu pasukan musuh dalam jumlah besar dan langsung menghujani dengan tembakan tanpa henti.

Meski akhirnya pihak pemberontak dapat dihalau mundur, RA Fadillah mendapat luka tembak di bagian perut. Hingga akhirnya, ia mengembuskan napas terakhir pada 2 April 1958. Untuk mengenang jasanya, nama RA Fadillah diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Cijantung.

4. Ahmad Kirang

Ahmad Kirang menjadi salah satu sosok prajurit TNI lainnya yang menjadi legenda. Ia merupakan salah satu anggota Kopassus yang diterjunkan dalam operasi pembebasan sandera pesawat Garuda DC-9 pada 31 Maret 1981 di Thailand.

Ini merupakan pertama kalinya maskapai penerbangan Indonesia mengalami pembajakan oleh teroris. Saat terjadi pembajakan tersebut, Pemerintah Indonesia menugaskan pasukan Kopassandha (Kopassus), termasuk di antaranya Ahmad Kirang.

Pasukan ini berhasil tiba di Bandara Don Mueang, Thailand, pada 30 Maret 1981, untuk melakukan penyergapan ke pesawat Garuda DC-9. Dalam operasi ini, pasukan Kopassus berhasil menyelinap ke dalam pesawat Garuda dan menembak mati keempat teroris di tempat dan satunya ditangkap langsung.

Namun, dalam operasi ini, Ahmad Kirang terkena peluru dalam baku tembak dengan pembajak. Peluru menembus perut bagin bawah yang tidak tertutupi oleh rompi antipeluru. Nyawanya tidak dapat diselamatkan. Atas jasanya, Ahmad Kirang dinaikkan pangkatnya dua tingkat secara anumerta.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya