Kemudian Putri Candrawathi lantas berangkat menuju rumah dinas Duren Tiga 46, sementara dia yang masih belum bisa berfikir jernih dan tidak tahu harus melakukan apa. Pada akhirnya melangkahkan kaki untuk memenuhi agenda undangan pimpinan yang sudah terjadwal di Depok.
"Sepanjang perjalanan dari Rumah Saguling, pikiran saya terus berkecamuk dan semakin memuncak ketika mobil yang saya tumpangi akan melewati rumah dinas Duren Tiga 46 dan melihat Yosua berdiri di depan rumah, seketika itu juga kemarahan saya semakin meletup membayangkan apa yang sudah dilakukan kepada istri saya," papar Sambo.
Sambo lalu memerintahkan ajudan dan sopir menghentikan mobil, masuk ke dalam rumah dan meminta Kuat Maruf yang kebetulan berada di sana untuk memanggil Ricky dan Yosua agar menemuinya. Dengan amarah yang memuncak, dia mengkonfirmasi Yosua, mengapa ia berlaku kurang ajar terhadap istrinya.
Namun, tembahnya, Brigadir J menjawab dengan lancang dan kurang ajar bagaimana komandan, seolah tidak ada satu apapun yang terjadi, kesabaran dan akal pikirannya pupus.
Lalu entah apa yang ada dibenaknya saat itu, namun seketika itu juga terlontar dari mulutnya. Hajar Chad, kamu hajar Chad, yang mana Bharada E lalu mengokang senjatanya dan menembak beberapa kali kearah Brigadir K, peluru Richard menembus tubuhnya, kemudian menyebabkan Brihadir J jatuh dan meninggal dunia.
"Kejadian tersebut begitu cepat, stop, berhenti, saya sempat mengucapkannya berupaya menghentikan tembakan Richard dan sontak menyadarkan saya telah terjadi penembakan oleh Richard yang dapat mengakibatkan matinya Yosua. Saya segera keluar memerintahkan Prayogi untuk segera memanggil ambulan sebagai upaya memberikan pertolongan bagi alm. Yosua," ungkapnya.
"Saya begitu panik, namun harus segera memutuskan apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi keadaan tersebut, terutama untuk melindungi Richard Eliezer pascaterjadinya peristiwa penembakan," kata Sambo lagi.