Ari menerangkan, sejatinya dia hanya bekerja karena baginya bekerja adalah menjalankan ibadah, sebagai manusia juga dia kadang menyadari, dia lemah dan putus asa.
"Saya tak habis berpikir kenapa saya menuai fitnah ketika saya dengan itikad baik bekerja, saya hilang nalar mengapa saya menuai kebencian ketika saya selalu mengisi pikiran dengan hal baik. Saya butuh akal mengapa saya menuai keji ketika saya mencintai institusi ini dengan setiap tarikan nafas saya, tapi dalam setiap sujud saya selalu mengingat cinta kasih ibunda yang tanpa syarat pada saya," kata Arif.
Arif menambahkan, dia menjadi tabah, ikhlas menerima takdir Allah dengan iman yang dia percaya, ini adalah jalan Allah. Lantas kepada istrinya tersayang dan keluarga. Istrinya merupakan cinta sejati, teman hidupnya, penolong, penjaga kehormatan keluarganya, dengan kerendahan hati dia juga memohon maaf pada istrinya, keluarga saya, anak-istri, anak-keluarga besar saya.
"Saya selalu mendoakan semuanya, terutama istri saya bisa menjadi wanita terkuat dan tetap memiliki kepercayaan meskipun perjalanan rumah tangga kita tak mudah, tapi kita selalu dan pasti bisa melewati masa sulit ini bersama, kita sudah teruji dalam melewati masa terberat, kita berangkulan dan sehati menghadapinya bersama dalam kondisi apapun," paparnya.
(Khafid Mardiyansyah)