Lebih lanjut, Devie mengungkapkan kebanyakan anak-anak yang ikut tawuran tersebut berusia 20 tahunan, dimana akalnya belum bisa tumbuh sempurna walaupun emosinya sudah meningkat. Sehingga, katanya, yang menjadi kiblat atau kompas mereka adalah emosi bukan logika. “Karena logika ini menurut para ahli baru berkembang sempurna setelah usia 20 tahun.”
“Jadi tidak heran, emosi itu begini, emosi ketika dia takut ditinggalkan temannya, ketika teman yang mengajak untuk yuk kita tarung, nah kalau tidak mau, dia bisa mendapatkan potensi untuk diisolasi dari lingkungannya, bisa jadi sebenarnya juga tidak ingin tawuran,” ungkap Devie.
“Atau kemudian ya selain solidaritas lalu kemudian tidak ingin yang ketiga juga karena berada dalam kerumunan mereka merasa bahwa mereka tidak bisa dikenali karena bahkan aksinya dilakukan sama-sama jadi berbagai faktor dan alasan ini yang saling sengkatut saling berkelindan yang kemudian melahirkan drama-drama dijalanan seperti ini,” tandasnya.
(Khafid Mardiyansyah)