Mengapa Tawuran Justru Merajalela saat Ramadhan?

Binti Mufarida, Jurnalis
Senin 27 Maret 2023 03:19 WIB
Share :

JAKARTA - Maraknya fenomena tawuran saat bulan suci Ramadan membuat resah masyarakat. Tawuran tidak hanya terjadi di Ibu Kota Jakarta, namun juga di sejumlah daerah di Indonesia.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati mengungkapkan tawuran yang terjadi pada waktu Ramadan seperti saat ini merupakan momentum untuk mencari panggung di jalanan.

“Ada masa-masa tertentu yang kemudian memungkinkan mereka untuk saling bertemu salah satunya akibat adanya liburan sebagainya disinilah momentum itu kembali dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang mencari panggung di jalanan,” ungkap Devie dikutip dalam keterangannya, Minggu (26/3/2023).

“Sederhana, karena remaja anak muda itu adalah kelompok usia yang ketika masa-masa tertentu seperti Ramadan, di mana ada libur, ada waktu-waktu dimana mereka yang memang belum memiliki tanggung jawab itu punya kesempatan untuk berkumpul bersama-sama,” kata Devi.

Sementara itu, Devie mengatakan dari sebuah studi tawuran yang melibatkan anak-anak muda juga merupakan ajang persoalan identitas. “Studi dari tahun 60-an, 70-an secara global polanya sama bahwa kekerasan yang dilakukan oleh anak muda jelas bukan karena urusan ekonomi atau urusan perebutan lahan misalnya, tapi ini semua karena persoalan identitas,” katanya.

Devie kemudian menegaskan tawuran itu jarang sekali dan hampir tidak ada para pekerja terutama pada saat Ramadan. “Karena selepas subuh, pada pekerja akan lebih memilih untuk beristirahat atau bersiap-siap untuk bekerja. Jadi ini fenomena yang sebenarnya memang tidak akan bisa terpisahkan dari anak-anak muda,” katanya.

Pengamat sosial yang juga aktif mengajar di UI ini mengatakan bahwa energi berlebih dari anak-anak muda ini harus disalurkan kepada tanggung jawab yang lebih positif, misalnya dengan penambahan waktu belajar, dan sebagainya. Meskipun, tidak jarang bahwa pelaku tawuran tersebut adalah mereka yang putus sekolah.

“Hanya saja kemudian kita bisa membantu membuat sistem agar kemudian anak-anak muda yang dengan energinya yang berlebih tadi dengan keleluasaan waktu luangnya ditambah kurangnya tanggung jawab karena memang mereka hanya fokus untuk belajar misalnya. Bayangkan kalau belajar sudah tidak, bisa lagi libur atau mereka putus sekolah, ya jelas mereka kemudian tidak memiliki aktivitas-aktivitas lainnya yang membuat mereka secara sadar memilih untuk tidak bertarung (tawuran),” jelas Devie.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya