JAKARTA - Sarwo Edhie Wibowo merupakan seorang perwira tinggi militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berpangkat Jenderal. Sarwo Edhie punya banyak rekam jejak yang cukup cemerlang sewaktu berkarier sebagai TNI. Salah satunya sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih pada 1968-1970.
Ketika mengetahui akan dijadikan sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Jenderal Sarwo Edhie tampak semangat.
"Ini tantangan untuk mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Sarwo ditirukan Ani Yudhoyono, yang dikutip dalam buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965.
Selanjutnya, disebutkan pada awal kedatangannya di Jayapura pada Juni 1968 untuk mengemban tugas sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Jenderal Sarwo Edhie langsung dihadapkan dengan persiapan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).
Sesuai dengan Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962, referendum untuk menentukan bergabung atau tidaknya Irian Barat dengan Indonesia harus digelar paling lambat pada 1969. Pada saat itu, Jenderal Sarwo Edhie diberi satu misi yaitu Indonesia harus menang dalam referendum.
Misi yang diamanatkan tersebut jelas tidak mudah untuk direalisasikan, mengingat tenggat waktu hanya tinggal setahun. Selain itu, banyak operasi sebelumnya seperti Operasi Wisnumurti, Sadar, dan Bharatayudha yang gagal dan menyebabkan gangguan keamanan dari Organisasi Papua Merdeka meningkat.
Gangguan keamanan yang paling meresahkan saat itu adalah gerakan yang dipimpin Sersan Mayor Permenas Ferry Awom yaitu seorang bekas sukarelawan Batalion Papua bentukan Belanda. Serta ada juga dari Hotmoes "Lodewijk" Mandatjan, dan ondoai alias kepala suku Arfak.
Berkaca pada pengalaman panglima-panglima pendahulunya, Jenderal Sarwo Edhie membuat dan menyempurnakan strategi atau operasi yang sebelumnya pernah dijalankan. Hal yang dilakukan yaitu membenahi model Operasi Sadar, warisan Brigadir Jenderal Kartidjo, dalam bentuk Operasi Wibawa.