Seperti dituliskan dalam buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, Operasi Wibawa ini mengutamakan operasi teritorial bersifat persuasif tanpa peperangan, meski secara bersamaan operasi intelijen dan tempur tetap dilakukan.
Hal yang dilakukan dalam operasi ini yaitu menerbangkan Pesawat Dakota dan pengebom ringan B-25 Mitchell untuk menyebarkan selebaran berisi seruan agar gerilyawan turun gunung.
Cara lainnya adalah dengan merangkul masyarakat Papua dengan memberikan barang mewah pada saat itu berupa radio transistor merk Philips L4 kepada para tokoh masyarakat setempat. Serta sering mengunjungi dan bertemu dengan tokoh-tokoh Papua untuk berdiskusi perihal Pepera.
Setelah 2 tahun mengemban tugas sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih dan lewat Operasi Wibawa tersebut, Jenderal Sarwo Edhie berhasil menjalankan misi yang diamanatkan. Akhirnya, rakyat Papua memilih bergabung dengan Indonesia dalam sebuah referendum yang dikenal Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada Juli – Agustus 1969.
(Erha Aprili Ramadhoni)