TARAKAN - Korban kebakaran di Jembatan Perikanan lama, Desa Sei Panjang Kecamatan Sebatik Utara Nunukan Kaltara, kini menempati bangunan bekas hotel milik H. Nuwardi, seorang pengusaha setempat.
“Pemilik hotel mempersilahkan korban-korban meminjam bangunan bekas hotel, kebetulan jaraknya cukup dekat sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran,” kata salah seorang korban kebakaran bernama Sarifuddin (51) di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Selasa (3/5/2023).
Sarifuddin bersama lima Kepala Keluarga (KK) lainnya dengan jumlah jiwa sebanyak 21 orang menempati bekas bangunan hotel Sei Pancang yang sudah 20 tahun tidak terpakai.
“Pemilik hotel mempersilahkan korban-korban meminjam bangunan bekas hotel, kebetulan jaraknya cukup dekat sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran,” katanya.
Dikatakannya, meski tidak terpakai, bangunan hotel berlantai dua ini sangat layak ditempati karena kondisinya masih bagus, hanya saja perlu sedikit waktu untuk membersihkan bagian kamar-kamar karena kotoran debu dan rumput.
Diketahui, Hotel Sei Pancang milik H. Nuwardi atau akrab dipanggil Haji Momo adalah hotel pertama di pulau Sebatik yang dibangun sekitar 30 tahun lalu.
Bangunan kosong ini dilengkapi WC dan kamar mandi di tiap kamar dan ruang dapur yang cukup luas.
“Ada ruangan luas di bagian belakang untuk kami jadikan dapur umum kalau mau masak bisa bergantian di sana,” kata Sarifuddin.
Nuwardi kata dia mempersilahkan korban kebakaran menempati bekas hotel tanpa batasan waktu, bahkan tanpa diminta pemilik bangunan dengan sangat baik hati memperbaiki kerusakan dan pembersihan.
Sebagai contoh, hari ini dilakukan renovasi ruang kamar di lantai satu yang mengalami kerusakan bagian plafon, perbaikan dinding di lantai dua dan pemasangan profil tank untuk penampungan air bersih.
“Tiga hari ini kita bersih-bersih bangunan bekas hotel, bagian rusak diperbaiki, untuk air bersih disiapkan profil tank besar,” ucapnya.
Warga korban kebakaran lainnya, H. Andu (52) juga menempati bekas bangunan hotel. Dia mengucapkan terima kasih kepada keluarga Nuwardi yang bersedia menampung warga.
“Korban-korban kebakaran itu saling berkeluarga semua, saya dengan safaruddin juga keluarga,” katanya.
Andu yang berprofesi sebagai nelayan akan kembali membangun rumahnya di lokasi bekas kebakaran, keinginan ini tidak berbeda dengan korban lainnya yang sudah menempati pemukiman tersebut puluhan tahun.
Sementara itu, Camat Sebatik Utara, Muhammad Eko mengatakan, jumlah bangunan rumah terbakar sebanyak enam unit ditambah dua bangunan terdampak dengan 12 Kepala Keluarga (KK) dan 57 jiwa.