Melihat sosok itu, Tunggul Ametung langsung berkeyakinan bahwa sosok tunggal yang merampok dirinya itu jelas seorang brahmana yang sakti, ia tentunya seorang mahasiddhi atau istilahnya pemilik kesaktian tinggi. Dari persoalan inilah kelak Tunggul Ametung mengalami krisis kepercayaan dari raja Kediri, Kertajaya.
Nama Tunggul Ametung ini agaknya merupakan benar adanya dan tercatat dalam sejarah. Pasalnya nama itu pula yang tercantum dalam kitab kuno Kakawin Pararaton. Dimana pada kitab Pararaton itu dijelaskan, Tunggul Ametung menjabat sebagai akuwu wilayah Tumapel, yaitu salah satu daerah bawahan kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Kertajaya (1185-1222). Tunggul Ametung mati dibunuh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang pada tahap berikutnya mendirikan Kerajaan Singasari.
(Angkasa Yudhistira)