JAKARTA - Hari Museum Indonesia diperingati setiap 12 Oktober. Museum menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk rekreasi atau hiburan hingga kepentingan edukasi serta penelitian. Selain itu, museum juga difungsikan untuk penyimpanan, perawatan, pengamanan, pemanfaatan, serta pelestarian hasil budaya.
Okezone pun berkesempata mengunjungi salah satu museum di Jakarta, yaitu Museum Nasional atau dikenal juga dengan nama Museum Gajah di Jalan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat.
Di Museum Nasional terdapat banyak koleksi benda-benda bersejarah yang unik. Salah satunya adalah Patung Nenek Moyang hasil kebudayaan Masyarakat Tanimbar.
Patung yang terletak di Ruang Etnografi Indonesia Museum Nasional ini, diletakkan di sudut ruangan. Karena itu, kesan yang ditimbulkan menjadi misterius, namun tetap unik untuk dilihat.
Masyarakat di Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Maluku memang memiliki seni ukir sejak dahulu dan diwariskan ke generasi berikutnya. Biasanya, ukiran-ukiran yang bernilai sakral dijumpai pada perahu-perahu, seperti belang dan kora, serta patung-patung leluhur yang memiliki nilai magis, termasuk Patung Nenek Moyang di Museum Nasional ini.
Patung leluhur berwarna coklat ini digambarkan duduk dan diberi penghormatan dengan memasukkan unsur kursi sebagai simbol status yang tinggi. Patung nenek moyang ini nampak sedang duduk sambil mengangkat sebuah guci dan dikelilingi enam patung 6 patung kecil dalam posisi yang sama.
Di bagian belakang patung nenek moyang nampak sebuah tangga yang berdiri tegak hingga hampir menyentuh langit-langit museum. Di daerah asalnya, biasanya patung untuk mengenang individu yang sudah meninggal ini pada bagian mata dan giginya dihias dengan kulit kerang.
Selain itu, pada desa-desa di Kepulauan Tanimbar, patung-patung seperti ini biasanya ditempatkan di sebuah altar ruang terbuka sebagai tempat pemujaan. Uniknya, altar tersebut diukir dalam bentuk perahu yang terbuat dari batu atau kayu.
Selain Patung Nenek Moyang hasil kebudayaan Masyarakat Tanimbar, ada koleksi lain yang menarik perhatian. Koleksi Museum Nasional tersebut adalah patung raja terakhir Kerajaan Cakranegara, Lombok.
Terletak di Ruang Etnografi Indonesia, patung ini menggambarkan sosok Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem. Patung ini terlihat begitu menarik, dalam posisi duduk di kursi kayu dengan kaki kanan diangkat bersandar di paha kaki kiri.
Mimik wajah patung hasil karya Gede Bem ini juga terlihat sangat natural. Dengan tangan kanan mengepal, mimik Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem seperti sedang geram.
Patung dengan rambut hanya di dua sisi kepala ini menyorot tajam ke depan. Kedua alis yang naik dan bibir berlipat mengisyaratkan penggambaran sosok yang tegas.
Sementara itu, penampilan Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem juga cukup unik. Patung ini mengenakan baju seperti blazer hitam dan dalaman kemeja putih. Selain itu, patung ini memakai celana pendek bermotif kotak-kotak merah.
Terlepas dari penampilan patung ini yang menarik, ternyata juga ada sejarah di belakangnya. Setelah kerajaannya hancur pada pertempuran di Cakranegara, Lombok Barat, Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem ditawan Belanda dan diasingkan ke Batavia pada 1894, tepatnya di daerah Tanah Abang.