Sebagai seorang rohaniawan, penggiat sosial dan organisatoris yang memberikan pendampingan kepada remaja berkebutuan khusus, bahkan memiliki ganguan kejiwaan dia memiliki banyak pengalaman.
Politisi partai nomor urut 16 itu menilai banyak hal perbedaan antara genersi Z dan milennial, salah satu hal utama yang harus dipelajari komunikasi agar dapat mendengar dan menyerap aspirasi mereka.
Dengan mengetahui aspirasi para remaja dapat membantu menyalurkan aspirasi pada hal yang positif. Penyampaian yang dilakukan secara persuasif dan sabar Johanes optimis akan memperbaiki situasi kenakalan remaja yang saat ini terjadi.
"Kita bisa bersinergi dengan tokoh agama, tokoh pemuda, pendidik, maupun pemerintah. Kita harus pelan-pelan sabar menyampaikan dan kalau tidak diwadahi ke hal yang positif akan menggunakan wadah lain sehingga melakukan kekerasan," jelasnya.
"Apa lagi kalau anak yang tidak memiliki orang tua negara harus hadir. Memberikan fasilitas dan bukan sekedar edukasi tapi menyediakan sarana," tambahnya.
Masalah lain yang harus diperhatikan remaja saat ini ialah kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan edukasi. Remaja dapat membuat doktrin perilaku tidak baik seperti tawuran kepada remaja lainnya.
Dia menilai kemajuan teknologi saat ini juga harus dibarengi dengan edukasi yang baik pada anak.
"Saya prihatin adanya anak yang membuat video atau konten kenakalan remaja untuk mendoktrin mengajak melakukan hal yang melanggar hukum," paparnya.
Lebih lanjut dia berpendapat menghadapi seorang remaja dengan menggunakan hukuman atau penjara harus dihindari. Karena hal itu, bukannya memperbaiki kepribadian melainkan merusak mental, pendidikan masa depan remaja.
"Kalau mereka dihukum dipenjara langsung berpisah dengan orang tua. Kebutuhan fisik mereka tidak bisa lagi komunikasi, kasih sayang dan termasuk mental mereka langsung. Kalau mereka pelajar masuk penjara otomatis langsung terputus," pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)