Saat di kamar itulah, pihak keluarga memanggil dokter yang datang ke rumah, tapi sayang saat dokter tiba pukul 06.30 WIB, nyawa Marjani sudah tak ada. Dokter mendiagnosa korban mengalami asam lambung ditambah dengan riwayat darah tinggi.
"Kemarin itu pulang jaga ngeluh kecapekan, terus kurang tidur, mungkin di situ masuk angin, di TPS tidur seperempat jam saja. Tidur di TPS katanya ada kasur sama bantal disediakan," terangnya.
Perempuan dengan tiga orang anak mengatakan, selama masa hidup suaminya memang jarang sakit. Hanya dua pekan sebelum Pemilu digelar itu, pria berusia 67 tahun itu sempat sakit. Tapi karena suaminya merupakan tulang punggung keluarga, Marjani tetap bekerja sebagai satpam di salah satu perumahan di Jalan Teluk Etna, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, serta bertugas jaga TPS.
"Bapak ini tulang punggung di rumah, nggak ada yang kerja, tulang punggung bapak, yang lain nggak ada yang kerja di rumah tinggal berenam bapak, saya, anak saya yang bungsu, dan tiga cucu," paparnya.
Sejauh ini kata Khoiriyah, belum ada santunan yang diterima dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Ia pribadi berharap agar bisa menerima santunan usai kehilangan tulang punggung keluarga.
"Pak Lurah dan KPU sudah ke sini. Katanya mau diurus (santunannya) tadi ke sini. Katanya pak Lurah baru memberi kesan-kesan, nggak ngomong akan ada pemberian santunan," tandasnya.
(Fakhrizal Fakhri )