Ramalan Mencekam Nostradamus 2026: Salah Satunya Sudah Terjadi di Swiss?

Dian AF, Jurnalis
Jum'at 02 Januari 2026 16:12 WIB
Ramalan Mencekam Nostradamus 2026: Salah Satunya Sudah Terjadi di Swiss? (nypost)
Share :

JAKARTA - Ramalan Nostradamus kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah tafsir menyebut tahun 2026 akan diwarnai peristiwa global yang mencekam. Nama Michel de Nostredame atau Nostradamus kerap dikaitkan dengan nubuat simbolik yang diyakini sebagian orang memiliki relevansi dengan kondisi dunia saat ini.

Nostradamus dikenal lewat kumpulan puisinya, Les Prophéties, yang ditulis pada abad ke-16. Tafsir terhadap ramalan tersebut terus berkembang, terutama ketika dikaitkan dengan konflik geopolitik, krisis global, hingga bencana alam yang berpotensi menyentuh pandangan hidup orang banyak.

Ramalan Nostradamus 2026

Kawanan Lebah dalam Alkitab

Lebah dalam konteks Alkitab sering diartikan sebagai peringatan atau ujian besar. 
Dikutip dari laman nypost, Jumat (2/1/2026), sang peramal legendaris menuliskan sebuah pesan samar: “Sekumpulan besar lebah akan bangkit… di malam hari akan terjadi penyergapan…”. Bait ini memicu berbagai analisis mendalam dari para pakar teori konspirasi.

Dalam konteks ini, muncul kekhawatiran akan kebangkitan rezim totaliter. Pada tahun 2026, kekuatan politik yang otoriter diprediksi akan semakin memperkuat barisannya dan mengancam stabilitas demokrasi internasional.

Tokoh Penting Tewas Tersambar Petir

Seorang pejabat/tokoh penting dunia diperkirakan tewas secara tragis akibat sambaran petir di tengah kekacauan politik. Ramalan Nostradamus ini menunjuk pada pemimpin Eropa yang jatuh karena "api dari langit". Kejadian ini berpotensi memicu pergeseran rezim kekuasaan besar. Mungkinkah tokoh yang dimaksud antara 2 tokoh penting dunia di tengah perseteruan Rusia dengan Ukraina?

Perang Besar Selama 7 Bulan

Konflik dunia diprediksi berlangsung selama tujuh bulan dengan kehancuran masif. Pasukan dari Timur dan Barat saling berhadapan, sesuai bait ramalan Nostradamus yang samar. Dampaknya bisa mengubah peta geopolitik secara permanen.

Konflik Panas di Laut Lepas

Masih dikutip di nypost, dalam bait VII:26, sang peramal menuliskan pesan tentang pertempuran laut melalui kalimat: "Foist dan galai di sekitar tujuh kapal, perang maut akan dilepaskan." Penggunaan istilah kapal kuno ini ditafsirkan sebagai sinyal pecahnya konflik maritim besar yang melibatkan kekuatan militer modern.

 

Para pengamat geopolitik menduga ramalan ini merujuk pada ketegangan di Laut China Selatan yang kian memanas. Wilayah ini menjadi sengketa antara tujuh negara lainnya, yakni China, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Indonesia.

Aliran Darah dari Swiss

Dalam nubuat yang lebih spesifik, sang peramal memperingatkan bahwa wilayah Ticino di Swiss akan "diliputi darah". Hal ini dipicu oleh sebuah tindakan "kemurahan hati" atau pemberian bantuan yang justru berakhir tragis di wilayah berbahasa Italia tersebut.

Meski Swiss dikenal sebagai negara netral, bait puisi abad ke-16 ini memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik baru di Eropa, terutama ketegangan dengan negara tetangga, Italia. Para pengamat kini mengaitkan ramalan tersebut dengan stabilitas keamanan di wilayah perbatasan yang mulai memanas.

Kekhawatiran publik semakin memuncak setelah tragedi kebakaran hebat di resor mewah Crans-Montana pada awal tahun baru 1 Januari 2026 kemarin. Insiden yang menelan puluhan korban jiwa ini dianggap sebagai awal dari rangkaian peristiwa berdarah yang diprediksi akan menyelimuti wilayah Swiss sepanjang tahun ini.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya