JAKARTA - Penanganan bencana di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dilakukan dengan pendekatanTerstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM) saat menangani bencana Sumatera. Diketahui, banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera menyebabkan ribuan orang meninggal.
Hal itu diungkapkan Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan, Timothy Ivan Triyono, Minggu (4/1/2026).
Ivan menjelaskan, pendekatan TSM merupakan arahan langsung Presiden yang telah ditegaskan berulang kali baik dalam Sidang Kabinet Paripurna, Rapat Terbatas, maupun saat mengunjungi lokasi terdampak bencana.
‘’Presiden menekankan agar tidak ada praktik “wisata bencana” oleh pejabat. Setiap kunjungan ke lokasi bencana harus disertai kerja nyata dan bantuan langsung bagi masyarakat terdampak,’’ujar Ivan.
Arahan tersebut kata dia, tercermin dalam kunjungan Presiden ke sejumlah wilayah terdampak, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
‘’Presiden selalu mengajak menteri dan pejabat yang relevan dengan penanganan bencana, seperti Menteri PU, Panglima TNI, Kepala Staf TNI, Menteri ESDM, hingga Dirut PLN, untuk memastikan percepatan kerja di lapangan,’’ ujarnya.
Ivan mencontohkan pembangunan jembatan darurat yang berhasil diselesaikan aparat TNI dalam waktu kurang dari satu minggu, jauh lebih cepat dari perkiraan awal.
‘’Presiden juga menunjuk Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai Ketua Satgas Percepatan Pemulihan Jembatan agar penanganan lebih terkoordinasi dan cepat,’’ kata dia.
Selain pendekatan struktural, Ivan menekankan sisi kepemimpinan lapangan dan empati Presiden Prabowo.
Menurutnya, latar belakang Presiden Prabowo sebagai prajurit tempur Kopassus, membentuk gaya kepemimpinan yang terbiasa turun langsung ke lapangan, mengecek pelaksanaan perintah, dan memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.