Siapakah Reza Pahlavi, Tokoh Pro-AS yang Namanya Dikumandangkan Demonstran Iran

Rahman Asmardika, Jurnalis
Minggu 11 Januari 2026 12:33 WIB
Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi. (Foto: X)
Share :

JAKARTA – Demonstrasi dan kerusuhan yang meluas di Iran telah memasuki pekan kedua, mengguncang pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah situasi yang memanas, nama Reza Pahlavi kembali terdengar didengungkan oleh demonstran dan para pendukung oposisi di Iran.

Reza Pahlavi adalah putra Shah terakhir Iran, yang digulingkan lima dekade lalu dan terpaksa hidup di pengasingan sejak saat itu.

Lahir di Teheran, Reza Pahlavi secara resmi dinobatkan sebagai Putra Mahkota pada tahun 1967, saat penobatan ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi. Sejak usia muda ia dipersiapkan untuk suatu hari memerintah Iran, namun hidupnya mengalami perubahan dramatis hanya lebih dari satu dekade kemudian.

Pada tahun 1978, di usia 17 tahun, Reza Pahlavi meninggalkan Iran untuk menjalani pelatihan pilot jet tempur dengan Angkatan Udara Amerika Serikat (AS). Keputusan itu, yang dimaksudkan untuk mempersiapkannya menjadi pemimpin militer, pada akhirnya membuatnya absen ketika Revolusi Islam 1979 meletus dan menggulingkan monarki.

 

Setelah jatuhnya Shah, Reza Pahlavi tidak pernah kembali ke tanah air. Ia hidup dalam pengasingan sejak 1979, terutama di Amerika Serikat dekat Washington, D.C., bersama ibunya, Permaisuri Farah Pahlavi.

Ia meraih gelar sarjana ilmu politik dari Universitas Southern California, yang memperkuat pendidikannya di bidang pemerintahan. Pada 1986, ia menikahi Yasmine Etemad-Amini, dan pasangan ini memiliki tiga putri.

Selama bertahun-tahun, Reza Pahlavi tetap menjadi figur simbolis bagi kaum monarkis. Namun seiring waktu, ia mengubah peran publiknya dengan menampilkan diri sebagai pemimpin transisi yang mempersatukan. Ia konsisten mengadvokasi Iran yang sekuler dan demokratis, menekankan pemilihan umum yang bebas, hak asasi manusia, serta pemisahan agama dari negara.

Gejolak yang sedang berlangsung di Iran, yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi, inflasi yang melonjak, dan runtuhnya mata uang, telah menyebar ke seluruh 31 provinsi. Di tengah gelombang ini, nama Pahlavi kembali terdengar di jalan-jalan Iran.

 

Para pengunjuk rasa di kota-kota dari Teheran hingga Mashhad dilaporkan meneriakkan slogan-slogan seperti “Ini adalah pertempuran terakhir. Pahlavi akan kembali!” dan “Javid Shah” (Hidup Raja!), sambil mengibarkan simbol-simbol Iran pra-revolusi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pahlavi mengemukakan gagasan bahwa Iran dapat menjadi monarki konstitusional, mungkin dengan penguasa terpilih alih-alih turun-temurun, namun menegaskan bahwa pilihan tersebut akan diserahkan kepada rakyat Iran.

Meski para pendukung monarki Iran di pengasingan memimpikan kembalinya dinasti Pahlavi, upayanya untuk mendapatkan dukungan lebih luas terhambat oleh beberapa faktor, termasuk kenangan buruk tentang kehidupan di bawah pemerintahan ayahnya.

Banyak yang memandang keluarga Pahlavi tidak lagi berhubungan dengan Iran modern. Bahkan ada yang melihatnya sebagai “boneka” Amerika Serikat, tempat ia menjalani pengasingan selama puluhan tahun. Selain itu, generasi muda Iran lahir beberapa dekade setelah berakhirnya pemerintahan Shah, sehingga tidak memiliki keterikatan khusus dengan monarki.

 

Ia juga dikritik karena dukungannya terhadap Israel, terutama setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu. Pada 2023, ia bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Israel, dan negara tersebut pun mendukungnya.

Meskipun hasil dari protes di seluruh Iran masih belum jelas, tidak ada kepastian apakah para demonstran yang meneriakkan dukungan untuk Shah benar-benar mendukung Pahlavi atau sekadar menyuarakan keinginan untuk kembali ke masa sebelum Revolusi Islam.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya